Vox Populi Vox Dei, ucapan tersebut seringkali kita dengar dalam berbagai hal yang terkait dengan konteks politik dan demokrasi. Arti dari Kalimat berbahasa Yunani tersebut kurang lebih adalah “suara rakyat suara Tuhan”. Bukan dalam arti kata mempersonifikasikan Tuhan ataupun sebaliknya, menuhankan peran manusia, Kalimat ini lebih berarti mengenai betapa besar kekuasaan yang dimiliki oleh rakyat, dalam arti kata, dalam suatu konsep pemerintahan demokratis, keputusan tertinggi berada di tangan rakyat. Tentunya tidak mungkin diartikan secara harfiah bahwa setiap rakyat berhak untuk mengeluarkan keputusannya sendiri-sendiri, namun ada mekanisme tertentu yang dianut dengan cara yang berbeda-beda oleh masing-masing wilayah teritorial yang berada dalam batasan wilayah Negara.
Dalam konteks sepak bola, dalam hal ini adalah club sepakbola, sebagaimana sedikit diuraikan dalam artikel sebelumnya (Baca : Go A Head Arema Indonesia), bahwa di bebeapa negara Sepakbola maju telah menganut suatu system dimana kepemilikan sebuah club bukan lagi berada di tangan pengusaha konglomerasi pemegang saham, namun beralih pada Suporter. Dalam konsep kepemilikan sebelumnya pun, dimana club sepakbola dimiliki oleh para Pengusaha yang kebanyakan konglomerat memiliki sebuah club dalam bentuk saham. Dalam kutipan dari Wikipedia, saham itu sendiri adalah satuan nilai atau pembukuan dalam berbagai instrumen finansial yang mengacu pada bagian kepemilikan sebuah perusahaan. Dengan demikian, kepemilikan club yang di wujudkan dalam bentuk saham menimbulkan pengertian bahwa club tersebut berbentuk Perusahaan (Badan usaha). Sedangkan Perusahaan adalah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya semua faktor produksi, dengan tujuan dan fungsi usaha adalah untuk mendapatkan untung (profit) dengan cara yang sah menurut hukum.
Sepakbola itu sendiri sebelumnya hanyalah sebatas salah satu jenis olah raga yang dimainkan oleh 2 team yang masing-masing beranggotakan sebelas orang dengan peraturan-peraturan yang telah disepakati. Dalam era industrialisasi sepak bola, Sepak Bola mengalami perluasan makna menjadi profesi yang “mempekerjakan” orang-orang yang profesional dibawah satu kelembagaan formal yang berorientasi pada hasil atau keuntungan. Profit oriented ini menjadi ciri khas suatu industri dimana para pelaku industri adalah pengusaha dengan perusahaannya. Dengan konsep seperti ini, maka juara tidak lagi hanya sebatas menjadi gelar, namun akan menjadi pencapaian ekspektasi tertinggi dari kinerja suatu team, dan yang paling penting, juara juga akan menjadi nilai jual yang tinggi bagi pelaku usaha didalamnya.
Dalam suatu upaya usaha, konsekuensi yang didapatkan adalah jika tidak mendapatkan keuntungan, maka akan merugi. Kondisi ini juga lumrah terjadi di dunia industri sepakbola. Ketika sebuah club mengalami keuntungan besar, maka dia akan berupaya untuk lebih meningkatkan nilai jualnya, dengan cara misalnya melakukan pembelian pemain-pemain tersohor dengan harapan bisa meraup untung besar dari merchandise/appareal resmi yang mencantumkan nama dan nomor punggung pemain tersebut. Dalam konteks bisnis hal ini adalah hal yang sangat luar biasa, namun dalam konteks kebutuhan suatu team, belum tentu pembelian pemain ini akan membuat kinerja (permainan) team menjadi lebih baik. Dan ketika sebuah club mengalami kerugian, maka sebaik apapun team yang dimiliki club tersebut harus siap untuk menanggung resiko, seperti yang terjadi pada Fiorentina beberapa tahun yang lalu misalnya, ketika dinyatkaan pailit, dan dianggap tidak mampu mengikuti kompetisi (dari segi finansial) maka salah satu dari The Magnificient Sevent ini harus siap untuk di degradasi secara paksa.
Beberapa club besar saat ini juga tengah mengalami ancaman serupa, seperti halnya Manchester United, akibat pembelian yang dilakukan oleh Glazer dengan cara hutang dan penanganan manajemen yang salah, maka salah satu club terbesar di EPL ini saat ini harus menanggung hutang dalam jumlah yang hampir setara dengan APBN kita. Menengok apa yang telah sukses dilakukan Barcelona beberapa tahun terakhir, melihat pula bagaimana Bundesliga menjadi liga paling sehat dan paling profit di Eropa meskipun dengan harga tiket paling murah di Eropa, Red Army (suprter MU) berupaya mengumpulkan dana untuk membeli club dari Glazer. Kepemilikan club oleh suporter menjadi trend baru di dunia Sepak Bola Eropa bisa jadi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dan tentunya, faktor paling dominan adalah dukungan dan kecintaan suporter terhadap team. Dalam industri sepakbola pun, faktor ini (suporter) juga dianggap salah satu faktor dominan. Dengan dukungan suporter/fans club yang besar dan menggurita di seluruh dunia, bisa dipastikan bisnis akan berjalan dengan lancar, brand dari pihak sponsor pun akan dikenal semakin luas.
Namun, adanya resiko bisnis yang juga cukup besar menjadikan berbagai club menjadi was-was akan mengalami resiko terburuk. Dan untuk mengantisipasi hal itu, atas dasar loyalitas dan kecintaan, suporter mengambil alih kepemilikan club. Dengan dimiliki oleh suporter, yang mendukung secara total dan tidak mengharapkan tendensi keuntungan, diharapkan keberlanjutan sebuah club dalam kompetisi akan dapat terjaga.
Loyalitas Aremania, Potensi besar Arema Indonesia
Hal ini mungkin hal baru untuk diterapkan di Negara kita, alih-alih kepemilikan oleh suporter, Era sepakbola industri saja kita belum pernah mengalami. Tapi jika di tempat lain sudah memberikan kita pelajaran bahwa sepak bola industri adalah cara yang kurang bijak dalam membangun dunia persepakbolaan, dan orang lain telah menyediakan kesimpulan kepada kita, kenapa kita harus bereksperimen ikut melaluinya?. Dengan besarnya basis dukungan dan loyalitas yang luar biasa yang ditunjukkan oleh suporter di tanah air, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa konsep kepemilikan club oleh suporter adalah cara yang paling tepat untuk menjadikan lebih maju dunia persepakbolaan kita.
Yang harus dipahami adalah kepemilikan club oleh suporter bukan berarti kemudian club akan dikelola oleh suporter. Dan juga tidak perlu ada ketakutan akan terjadi perpecahan diinternal pendukung ketika berbicara profit club. Jika kita mengaju pada apa yang dilakukan oleh Barcelona, mekanisme yang dianut adalah dengan menggunakan suatu wadah atau perkumulan. Dengan beranggotakan 170.000 (seratus tujuh puluh ribu orang) dimana masing-masing anggota membayar iuran sebesar 140 Euro setiap tahunnya. Jumlah ini, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga tiket terusan untuk satu musim pertandingan (harga tiket untuk kelas termurah rata-rata adalah 84 Euro). Selanjutnya dana segar yang diperolah dari iuran tersebut akan digunakan untuk operasional perkumpulan yang membawahi club.
Dalam sebuah perkumpulan dengan jumlah anggota sebanyak itu, tentunya dibutuhkan suatu mekanisme keterwakilan untuk menyuarakan segala keputusan dan kebijakan perkumpulan. Dalam hal ini, perkumpulan secara rutin dan periodik menyelenggarakan sebuah mekanisme pemilihan presiden/dewan eksekutif dalam sebuah kongres yang diikuti oleh representasi dari seluruh peserta perkumpulan tersebut. Ada mekanisme tepisah pula untuk memilih perwakilan yang akan hadir di dalam kongres.
Selanjutnya, dewan eksekutif yang terpilih akan menduduki posisi setara dengan komisaris dalam dunia industri sepakbola. Sedangkan posisi direksi dan kebawah adalah para pekerja profesional yang bekerja di digaji secara profesional sebagaimana layaknya club sepakbola. Peran-peran usaha seperti ticketing, sponsorship, merchandise, dll tetap ada. Dan jika setelah dilakukan perhitungan di akhir musim ternyata club mendapatkan profit, maka Barcelona (perkumpulan) sepakat untuk mengalokasikan seluruh profit tersebut dalam bentuk sosial. Ada berbagai lembaga sosial yang dibiayai dan di sumbang oleh Barcelona, yang paling nampak adalah yang dalam beberapa tahun terakhir selalu menemani di jersey team yaitu Unicef, sebuah lembaga sosial dibawah PBB yang bergerak untuk anak-anak dan pendidikan. Dengan kata lain, secara tidak langsung perkumpulan Barcelona ada karena fungsi sosial yang dia miliki.
Dapat kita bayangkan jika hal ini terjadi di negara kita, khususnya Malang, yang memiliki basis suporter terkuat di Indonesia, dengan sebaran yang tidak hanya berada di Malang Raya, namun tersebar di seluruh pelosok nusantara bahkan di luar negeri. Tentunya besarnya basis suporter ini menjadikan potensi untuk pemilikan club berbasis suporter dan jika dilaksanakan berbarengan dengan mengemban fungsi sosial yang diutamakan untuk wilayah Malang Raya, maka pembangunan dan perbaikan diberbagai bidang akan dilaksanakan dan di support oleh kita sendiri. Semoga ini bukan hanya sebatas mimpi. (lek)
posted on : http://aremasenayan.com/2011/04/09/vox-populi-vox-dei.php?preview=true&preview_id=2643&preview_nonce=771b05128a
Mengenai Saya
- Moenir
- Jakarta, DKI, Indonesia
- Abdullah Hariri (Hamba Allah yang lembut) demikian bapakku berharap seperti apa aku. Kakekku yang bijakpun tak lupa menyertakan harapannya terhadapku dengan menghadiahkan sebuah nama Moenir (yang bersinar terang). Lahir dan besar di tanah pemberani, dibesarkan oleh seorang penjual minyak tanah yang bijak,menjadi piatu sejak usia 2 tahun, namun tak pernah lepas dari kasih sayang orang tua...
12 Juli 2011
Menguji Profesionalisme
Miroslav Janu, Head Coach Arema Indonesia
Berbincang pagi dengan seorang nawak setelah membaca salah satu berita di Malang Post yang berisi wawancara reporter dengan pelatih Arema Miroslav Janu, dimana kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) yang telah bergulir sejak 8 Januari 2011. Namun, meskipun telah berjalan, LPI masih terus bergerilya untuk membujuk team kebanggaan kita Arema Indonesia maupun menggembosi satu demi satu pemainnya untuk di bujuk bergabung dalam kompetisi dadakan tersebut.
Berikut adalah petikan wawancara tersebut :
Malang Post (MP): Anda dikabarkan juga akan keluar dari Arema dan ikut LPI?
Miroslav Janu (MJ) : Soal saya mau gabung LPI itu tidak benar. Saya tidak ada kontrak dengan LPI. Saya sudah ada komitmen untuk bersama Arema. Saya sudah janji disini, saya mau ikut kontrak selama satu tahun. Soal nanti, lihat nanti, sekarang saya pelatih Arema, saya terus motivasi pemain untuk latihan, dan harus kerja keras. Saya mau kerja untuk Arema, tapi saya tidak bisa garansi Arema untuk juara, saya hanya garansi saya kerja keras untuk Arema, ini pekerjaan saya. Saya sudah deal dengan Arema, saya tidak lihat uang dulu, kalau sekarang ada LPI yang lebih banyak uang, ini resiko pelatih, saya dapat kontrak dan saya kerja ini untuk Arema. Mungkin ada pelatih yang lebih banyak uang, silahkan saja. Saya sudah deal dengan Arema, dan saya percaya Arema. Arema bisa saja pecat saya, ini resiko pelatih, kenapa tidak.
MP : Bagaimana dengan Njanka yang dikabarkan ikut LPI?
MJ : Saya bicara fair, saya tidak bisa lihat dalam kepala pemain. Mungkin sudah ada pemain yang mulai pikir untuk ganti tim, saya tidak mau bicara soal lain, seperti Njanka. Kalau saya tahu dulu, saya tidak akan mainkan Njanka saat lawan Persija.
MP: Bagaimana kalau ada pemain lain yang mau keluar dan ikut LPI?
MJ: Ada banyak pemain yang mau tetap disini dan mau kerja untuk Arema. Ya mungkin ada pemain yang pikir, LPI tidak usah banyak latihan. Saya lihat dua pertandingan LPI, ini mungkin kualitas Divisi I, ya kalau mau ikut LPI, bisa tidak usah latihan keras, karena mungkin sudah lihat umur, pemain bisa kontrak tiga tahun, bisa hidup enak, dan tidak usah latihan keras, dan bisa banyak uang, silahkan! Tapi kalau lihat sport, pemain seperti (Irfan) Bachdim, harus main di Liga Super, ya kalau mau karir bagus, masuk timnas, tidak bisa di LPI. Mungkin dia di LPI bisa top score, tapi di Liga Super susah. Di LPI dia bisa cetak gol terus, tapi kualitas kompetisi beda. Kompetisi LPI ini biasa, semua bisa masuk. Saya tidak marah, semua pemain urus mereka sendiri, mau LPI atau mau Liga Super. Kalau ada pemain Arema yang mau ikut LPI, harus datang dan bicara dulu. Datang pada saya, bilang mau ikut LPI, dan tidak suka Arema, silahkan. Tapi harus bicara dulu. LPI terus kejar Arema dan pemain Arema karena LPI tahu Arema ada problem uang.
MP : Anda tidak suka LPI?
MJ : Saya tidak ada problem suka LPI atau tidak, saya hanya lihat dari TV. Saya tidak pikir banyak soal LPI. Menurut saya, tim besar besar seperti PSM, harusnya ikut kompetisi Liga Super, kompetisi paling bagus. Saya tahu orang Makassar, hampir semua marah, karena tidak mau PSM main lawan tim kampung. Mereka mau lihat PSM main tim bagus, seperti Persija. Saya tidak mau ikut campur LPI, buat pertandingan LPI, silahkan. Saya tidak tahu nanti, tahun depan ada kerja disini atau tidak, tapi saya sekarang pelatih Arema. Lihat nanti, saya tidak marah soal LPI, silahkan saja.
MP : Sebenarnya menurut Anda, LPI itu bagaimana LPI?
MJ: Sebenarnya dari hitung-hitungan sederhana saja, sekarang ini kompetisi Liga Super sudah ada problem untuk satu tim dapat sekitar 25 pemain berkualitas. Divisi Utama juga problem untuk dapat pemain berkualitas, kalau mau lolos atau main di papan atas. Bisa dihitung. Liga Super ada 15 tim dikali 25 pemain yang bagus, lalu tim Divisi Utama yang ada tiga wilayah, juga problem untuk cari pemain berkualitas. Bisa lihat, banyak tim yang kualitas pemainnya tidak bagus. Ini sudah problem. Sekarang datang 19 tim LPI, yang jumlah pemainnya 20 dampai 25 pemain. Coba dihitung ada berapa pemain berkualitas disitu. Lalu dimana ada kualitas kompetisi? Divisi utama saja sudah ada problem kualitas pemain, sekarang mau buat kompetisi baru. Mungkin hanya ada Persema, Persibo dan PSM, tim yang berkualitas. Nanti juara bisa PSM atau Persema. Ini hitungan sederhana, darimana dapat pemain berkualitas? Apa dari tim Divisi I atau dari kampung! Tapi LPI sudah bicara sepakbola yang berkualitas, saya tidak mengerti. Kalau saya pelatih dan saya ada target main di papan atas, dengan atmosfir kompetisi yang bagus, dan idealnya main Liga Champion, maka saya pilih Liga Super. Pemain harusnya juga sama, Liga Champions ini top class, tidak ada yang lebih dari Liga Champions. Kalau pemain seperti Njanka mau main liga kampung, silahkan. Ini spekulasi uang, bukan sportifitas. Dia tidak mau lihat sport, tidak mau main lawan tim bagus dari Jepang, dan tim Liga Champions lainnya. Mau lihat uang saja. Tapi saya tidak marah, silahkan saja. Pemain yang pilih sendiri. Mungkin karena sudah ada umur, mungkin dapat kontrak bagus, dua atau tiga tahun, saya tidak marah. Silahkan.
Dari petikan wawancara tersebut dapat kita simak bagaimana Miro adalah seorang pelatih yang profesional, dimana dia akan tetap berkomitmen dengan kontrak yang telah ditandanganinya, dan apabila dinilai wanprestasipun, dia akan siap di pecat itu adalah resiko dari seorang profesional. Lebih lanjut, melihat komposisi team dan pemain, Miro lebih melihat LPI adalah sebagai kompetisi kampung yang memiliki bobot kualitas di bawah ISL. Suatu sistem kompetisi yang kurang tepat untuk para pemain yang ingin berkembang dan bermain melawan team-team yang bagus.
Tentang LPI yang terus bergerilya untuk mendapatkan Arema Indonesia maupun para pemainnya dapat kita lihat lebih dikarenakan Arema Indonesia sendiri adalah team yang bagus. Dari segi komposisi pemainnya, mayoritas pemain Arema Indonesia adalah materi team juara ISL 2009-2010. Dilihat dari segi struktur organisasinya dan sumber pendanaan, Arema Indonesia adalah satu dari sedikit sekali team di Indonesia yang sudah benar-benar profesional. Dilihat dari segi basis pendukungnya, dapat kita maklumi jika LPI amat sangat berambisi mendapatkan Arema Indonesia, karena dilihat dari basis pendukungnya Arema Indonesia memiliki basis pendukung atau suporter yang luar biasa, baik dalam segi jumlah maupun loyalitasnya.
Dan bagi LPI yang mengklaim bahwa kompetisi yang dibangun adalah kompetisi yang berbasis Industri, dimana Industri tidak akan bisa berjalan tanpa adanya pasar yang besar, dan dalam dunia Industri Sepakbola, pasar berarti suporter, Industri Sepakbola tidak akan berjalan tanpa adanya dukungan basis suporter yang besar. Itulah yang terjadi pada mayoritas team peserta LPI yang merupakan team yang baru berdiri yang tidak/belum memiliki basis suporter yang besar.
Aremania, sebagai basis suporter Arema Indonesia tidak menjadi besar begitu saja, akan tetapi setelah melalui berbagai tahapan dan proses. Aremania menjadi komunitas yang besar tidak karena Arema Indonesia adalah team kaya yang dimanja dengan gelontoran dana yang besar, tidak pula karena team berplat merah yang dimanja dengan segala fasilitas dan kemudahan. Akan tetapi kedewasaan Aremania adalah karena Arema Indonesia adalah team yang hampir selalu bermasalah dalam segi keuangan yang selalu membutuhkan dukungan dan pengawalan Aremania. Setiap orang yang masuk stadion tanpa tiket berarti adalah memperbesar bencana bagi team. Oleh karena itu, membangun industri sepakbola tiak bisa dilakukan secara serta merta, akan tetapi butuh proses panjang yang harus dilakukan dari bawah, bukan dari atas. (lek)
Berbincang pagi dengan seorang nawak setelah membaca salah satu berita di Malang Post yang berisi wawancara reporter dengan pelatih Arema Miroslav Janu, dimana kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) yang telah bergulir sejak 8 Januari 2011. Namun, meskipun telah berjalan, LPI masih terus bergerilya untuk membujuk team kebanggaan kita Arema Indonesia maupun menggembosi satu demi satu pemainnya untuk di bujuk bergabung dalam kompetisi dadakan tersebut.
Berikut adalah petikan wawancara tersebut :
Malang Post (MP): Anda dikabarkan juga akan keluar dari Arema dan ikut LPI?
Miroslav Janu (MJ) : Soal saya mau gabung LPI itu tidak benar. Saya tidak ada kontrak dengan LPI. Saya sudah ada komitmen untuk bersama Arema. Saya sudah janji disini, saya mau ikut kontrak selama satu tahun. Soal nanti, lihat nanti, sekarang saya pelatih Arema, saya terus motivasi pemain untuk latihan, dan harus kerja keras. Saya mau kerja untuk Arema, tapi saya tidak bisa garansi Arema untuk juara, saya hanya garansi saya kerja keras untuk Arema, ini pekerjaan saya. Saya sudah deal dengan Arema, saya tidak lihat uang dulu, kalau sekarang ada LPI yang lebih banyak uang, ini resiko pelatih, saya dapat kontrak dan saya kerja ini untuk Arema. Mungkin ada pelatih yang lebih banyak uang, silahkan saja. Saya sudah deal dengan Arema, dan saya percaya Arema. Arema bisa saja pecat saya, ini resiko pelatih, kenapa tidak.
MP : Bagaimana dengan Njanka yang dikabarkan ikut LPI?
MJ : Saya bicara fair, saya tidak bisa lihat dalam kepala pemain. Mungkin sudah ada pemain yang mulai pikir untuk ganti tim, saya tidak mau bicara soal lain, seperti Njanka. Kalau saya tahu dulu, saya tidak akan mainkan Njanka saat lawan Persija.
MP: Bagaimana kalau ada pemain lain yang mau keluar dan ikut LPI?
MJ: Ada banyak pemain yang mau tetap disini dan mau kerja untuk Arema. Ya mungkin ada pemain yang pikir, LPI tidak usah banyak latihan. Saya lihat dua pertandingan LPI, ini mungkin kualitas Divisi I, ya kalau mau ikut LPI, bisa tidak usah latihan keras, karena mungkin sudah lihat umur, pemain bisa kontrak tiga tahun, bisa hidup enak, dan tidak usah latihan keras, dan bisa banyak uang, silahkan! Tapi kalau lihat sport, pemain seperti (Irfan) Bachdim, harus main di Liga Super, ya kalau mau karir bagus, masuk timnas, tidak bisa di LPI. Mungkin dia di LPI bisa top score, tapi di Liga Super susah. Di LPI dia bisa cetak gol terus, tapi kualitas kompetisi beda. Kompetisi LPI ini biasa, semua bisa masuk. Saya tidak marah, semua pemain urus mereka sendiri, mau LPI atau mau Liga Super. Kalau ada pemain Arema yang mau ikut LPI, harus datang dan bicara dulu. Datang pada saya, bilang mau ikut LPI, dan tidak suka Arema, silahkan. Tapi harus bicara dulu. LPI terus kejar Arema dan pemain Arema karena LPI tahu Arema ada problem uang.
MP : Anda tidak suka LPI?
MJ : Saya tidak ada problem suka LPI atau tidak, saya hanya lihat dari TV. Saya tidak pikir banyak soal LPI. Menurut saya, tim besar besar seperti PSM, harusnya ikut kompetisi Liga Super, kompetisi paling bagus. Saya tahu orang Makassar, hampir semua marah, karena tidak mau PSM main lawan tim kampung. Mereka mau lihat PSM main tim bagus, seperti Persija. Saya tidak mau ikut campur LPI, buat pertandingan LPI, silahkan. Saya tidak tahu nanti, tahun depan ada kerja disini atau tidak, tapi saya sekarang pelatih Arema. Lihat nanti, saya tidak marah soal LPI, silahkan saja.
MP : Sebenarnya menurut Anda, LPI itu bagaimana LPI?
MJ: Sebenarnya dari hitung-hitungan sederhana saja, sekarang ini kompetisi Liga Super sudah ada problem untuk satu tim dapat sekitar 25 pemain berkualitas. Divisi Utama juga problem untuk dapat pemain berkualitas, kalau mau lolos atau main di papan atas. Bisa dihitung. Liga Super ada 15 tim dikali 25 pemain yang bagus, lalu tim Divisi Utama yang ada tiga wilayah, juga problem untuk cari pemain berkualitas. Bisa lihat, banyak tim yang kualitas pemainnya tidak bagus. Ini sudah problem. Sekarang datang 19 tim LPI, yang jumlah pemainnya 20 dampai 25 pemain. Coba dihitung ada berapa pemain berkualitas disitu. Lalu dimana ada kualitas kompetisi? Divisi utama saja sudah ada problem kualitas pemain, sekarang mau buat kompetisi baru. Mungkin hanya ada Persema, Persibo dan PSM, tim yang berkualitas. Nanti juara bisa PSM atau Persema. Ini hitungan sederhana, darimana dapat pemain berkualitas? Apa dari tim Divisi I atau dari kampung! Tapi LPI sudah bicara sepakbola yang berkualitas, saya tidak mengerti. Kalau saya pelatih dan saya ada target main di papan atas, dengan atmosfir kompetisi yang bagus, dan idealnya main Liga Champion, maka saya pilih Liga Super. Pemain harusnya juga sama, Liga Champions ini top class, tidak ada yang lebih dari Liga Champions. Kalau pemain seperti Njanka mau main liga kampung, silahkan. Ini spekulasi uang, bukan sportifitas. Dia tidak mau lihat sport, tidak mau main lawan tim bagus dari Jepang, dan tim Liga Champions lainnya. Mau lihat uang saja. Tapi saya tidak marah, silahkan saja. Pemain yang pilih sendiri. Mungkin karena sudah ada umur, mungkin dapat kontrak bagus, dua atau tiga tahun, saya tidak marah. Silahkan.
Dari petikan wawancara tersebut dapat kita simak bagaimana Miro adalah seorang pelatih yang profesional, dimana dia akan tetap berkomitmen dengan kontrak yang telah ditandanganinya, dan apabila dinilai wanprestasipun, dia akan siap di pecat itu adalah resiko dari seorang profesional. Lebih lanjut, melihat komposisi team dan pemain, Miro lebih melihat LPI adalah sebagai kompetisi kampung yang memiliki bobot kualitas di bawah ISL. Suatu sistem kompetisi yang kurang tepat untuk para pemain yang ingin berkembang dan bermain melawan team-team yang bagus.
Tentang LPI yang terus bergerilya untuk mendapatkan Arema Indonesia maupun para pemainnya dapat kita lihat lebih dikarenakan Arema Indonesia sendiri adalah team yang bagus. Dari segi komposisi pemainnya, mayoritas pemain Arema Indonesia adalah materi team juara ISL 2009-2010. Dilihat dari segi struktur organisasinya dan sumber pendanaan, Arema Indonesia adalah satu dari sedikit sekali team di Indonesia yang sudah benar-benar profesional. Dilihat dari segi basis pendukungnya, dapat kita maklumi jika LPI amat sangat berambisi mendapatkan Arema Indonesia, karena dilihat dari basis pendukungnya Arema Indonesia memiliki basis pendukung atau suporter yang luar biasa, baik dalam segi jumlah maupun loyalitasnya.
Dan bagi LPI yang mengklaim bahwa kompetisi yang dibangun adalah kompetisi yang berbasis Industri, dimana Industri tidak akan bisa berjalan tanpa adanya pasar yang besar, dan dalam dunia Industri Sepakbola, pasar berarti suporter, Industri Sepakbola tidak akan berjalan tanpa adanya dukungan basis suporter yang besar. Itulah yang terjadi pada mayoritas team peserta LPI yang merupakan team yang baru berdiri yang tidak/belum memiliki basis suporter yang besar.
Aremania, sebagai basis suporter Arema Indonesia tidak menjadi besar begitu saja, akan tetapi setelah melalui berbagai tahapan dan proses. Aremania menjadi komunitas yang besar tidak karena Arema Indonesia adalah team kaya yang dimanja dengan gelontoran dana yang besar, tidak pula karena team berplat merah yang dimanja dengan segala fasilitas dan kemudahan. Akan tetapi kedewasaan Aremania adalah karena Arema Indonesia adalah team yang hampir selalu bermasalah dalam segi keuangan yang selalu membutuhkan dukungan dan pengawalan Aremania. Setiap orang yang masuk stadion tanpa tiket berarti adalah memperbesar bencana bagi team. Oleh karena itu, membangun industri sepakbola tiak bisa dilakukan secara serta merta, akan tetapi butuh proses panjang yang harus dilakukan dari bawah, bukan dari atas. (lek)
LPI, PSSI dan Revolusi PSSI
Gegap Gempita dukungan Rakyat untuk Team Nasional (photo by PAS)
Olah raga voetbal atau Sepak bola diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia sejak akhir 1920, dan biasa dimainkan untuk meramaikan pasar malam. Lapangan Singa (Lapangan Banteng) menjadi saksi di mana orang Belanda sering menggelar pertandingan panca lomba (vijfkam) dan tienkam(dasa lomba). Khusus untuk sepak bola, serdadu di tangsi-tangsi militer paling sering bertanding. Mereka kemudian membentuk bond sepak bola atau perkumpulan sepak bola. Dari bond-bond itulah kemudian terbentuk satu klub besar. Tak hanya serdadu militer, tapi juga warga Belanda, Eropa, dan Indo membuat bond-bond serupa.
Dari bond-bond itu kemudian terbentuklah Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang pada tahun 1927 berubah menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU). Sampai tahun 1929, NIVU sering mengadakan pertandingan termasuk dalam rangka memeriahkan pasar malam dan tak ketinggalan sebagai ajang judi. Bond China menggunakan nama antara lain Tiong un Tong, Donar, dan UMS. Adapun bond pribumi biasanya mengambil nama wilayahnya, seperti Cahaya Kwitang, Sinar Kernolong, atau Si Sawo Mateng.
Pada 1928 dibentuk Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ) sebagai akibat dari diskriminasi yang dilakukan NIVB. Sebelumnya bahkan sudah dibentuk Persatuan Sepak Bola Djakarta (Persidja) pada 1925. Pada 19 April 1930, Persidja ikut membentuk Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di gedung Soceiteit Hande Projo, Yogyakarta. Pada saat itu Persidja menggunakan lapangan di Jalan Biak, Roxy, Jakpus.
Pada tahun 1930-an, di Indonesia berdiri tiga organisasi sepakbola berdasarkan suku bangsa, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang lalu berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) di tahun 1936 milik bangsa Belanda, Hwa Nan Voetbal Bond(HNVB) punya bangsa Tionghoa, dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) milik orang Indonesia.
Memasuki tahun 1930-an, pamor bintang lapangan Bond NIVB, G Rehatta dan de Wolf, mulai menemui senja berganti bintang lapangan bond China dan pribumi, seperti Maladi, Sumadi, dan Ernst Mangindaan. Pada 1933, VIJ keluar sebagai juara pada kejuaraan PSSI ke-3.
Pada 1938 Indonesia lolos ke Piala Dunia. Pengiriman kesebelasan Indonesia (Hindia Belanda) sempat mengalami hambatan. NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau organisasi sepak bola Belanda di Jakarta bersitegang dengan PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) yang telah berdiri pada bulan April 1930. PSSI yang diketuai Soeratin Sosrosoegondo, insinyur lulusan Jerman yang lama tinggal di Eropa, ingin pemain PSSI yang dikirimkan. Namun, akhirnya kesebelasan dikirimkan tanpa mengikutsertakan pemain PSSI dan menggunakan bendera NIVU yang diakui FIFA.
Pada masa Jepang, semua bond sepak bola dipaksa masuk Tai Iku Koi bentukan pemerintahan militer Jepang. Di masa ini, Taiso, sejenis senam, menggantikan olahraga permainan. Baru setelah kemerdekaan, olahraga permainan kembali semarak.
Tahun 1948, pesta olahraga bernama PON (Pekan Olahraga Nasional) diadakan pertama kali di Solo. Di kala itu saja, sudah 12 cabang olahraga yang dipertandingkan. Sejalan dengan olahraga permainan, khususnya sepak bola, yang makin populer di masyarakat, maka kebutuhan akan berbagai kelengkapan olahraga pun meningkat. Di tahun 1960-1970-an, pemuda Jakarta mengenal toko olahraga Siong Fu yang khusus menjual sepatu bola. Produk dari toko sepatu di Pasar Senen ini jadi andalan sebelum sepatu impor menyerbu Indonesia. Selain Pasar Senen, toko olahraga di Pasar Baru juga menyediakan peralatan sepakbola.
Pengaruh Belanda dalam dunia sepak bola di Indonesia adalah adanya istilah henbal, trekbal (bola kembali), kopbal (sundul bola), losbal (lepas bola), dan tendangan 12 pas. Istilah beken itu kemudian memudar manakala demam bola Inggris dimulai sehingga istilah-istilah tersebut berganti dengan istilah persepakbolaan Inggris. Sementara itu, hingga 1950 masih terdapat pemain indo di beberapa klub Jakarta. Sebut saja Vander Vin di klub UMS; Van den Berg, Hercules, Niezen, dan Pesch dari klub BBSA. Pemain indo mulai luntur di tahun 1960-an
Perjalanan panjang PSSI sejak dipimpin oleh Ketua Umum pertama Ir. Soeratin pada 1930 hingga saat ini telah melalui berbagai hal. Dan di sepanjang perjalannya itu, PSSI seakan-akan kehabisan tinta emas untuk menorehkan prestasinya baik di tingkatan regional maupun internasional. Lolosnya Tim Nasional Indonesia (waktu itu bernama Dutch East Indies = Hindia Belanda ) ke ajang Piala Dunia 1938, pada saat itu Tim Nasional yang lolos tidak berada di bawah kendali PSSI, melainkan NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau organisasi sepak bola Belanda di Jakarta, di bawah asuhan pelatih berkebangsaan Belanda Johannes Christoffel van Mastenbroek.
Di bawah PSSI melalui PT. Liga Indonesia (dahulu BLI) berlangsung beberapa tingkatankompetisi mulai dari Divisi I, Divisi Utama, dan yang paling atas adalah Liga Super Indonesia (LSI). Sebelumnya, sejarah panjang kompetisi di tanah air telah berlangsung sejak lama, diantaranya adala dualisme kompetisi Liga Sepakbola Utama (Galatama) yang mempertemukan team-team swasta non APBD dengan Liga Perserikatan, kemudian peleburan kedua liga tersebut menjadi Divisi-Divisi kompetisi yang terbagi dalam beberapa wilayah, hingga format kompetisi Liga Super Indonesia yang diikuti oleh 18 team dan menggunakan sistem kompetisi penuh (Home-Away).
Sejarah panjang yang membentuk kompetisi tersebut diikuti pula oleh sejarah panjang masing-masing team peserta Liga Super Indonesia. Sehingga masing-masing team peserta LSI disamping mengikuti kompetisi secara nasional, namun di bawahnya juga memiliki akademi pembinaan dan liga domestik yang diikuti oleh team-team binaan yang tersebar ke dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil, sehingga bisa dikatakan bahwa kompetisi LSI dan tingkatan dibawahnya adalah sistem kompetisi yang memiliki dukungan yang masif dan disertai pula dengan sistem pembinaan yang telah berlangsung sejak lama.
Di tahun 2011 atau tahun ke 8 (delapan) kepemimpinan Ketua Umum PSSI paling kontroversial dan minim prestasi Nurdin Halid, muncul gelaran kompetisi lain yang disebut dengan Liga Primer Indonesia (LPI). Berdalih meneruskan hasil Kongres Sepakbola Nasional yang berlangsung di Malang, Jawa Timur tahun sebelumnya, kompetisi yang dimotori oleh raja minyak Arifin Panigoro ini diikuti oleh 19 team yang 15 diantaranya adalah team yang baru terbentuk dan notabene tidak atau belum memiliki sistem pembinaan dan dukungan suporter yang masif. Analisa dari berbagai pihak, kemunculan LPI adalah akumulasi dari kekecawaan terhadap PSSI pimpinan duet Nurdin Halid dan Nugraha Besoes.
Jauh sebelumnya, kemunculan PSSI dibawah pimpinan Ir. Soeratin berawal dari semangat nasionalisme dan kebangsaan ketika pada saat itu, organisasi sepakbola yang ada adalah organisasi sepakbola yang berdasarkan atas suku bangsa. Sehingga dengan semangat nasionalisme dan kebangsaan Ir. Soeratin membentuk PSSI yang memiliki tugas mulia untuk mempersatukan bangsa melalui sepakbola.
Kondisi persepakbolaan nasional yang minim prestasi dan kerapkali diwarnai dengan ketidakpuasan dan kecurigaan adanya ketidakjujuran dan minimnya sportifitas di dalam kompetisi dalam negeri mengundang seluruh pelaku dan pengamat sepakbola nasional untuk menyuarakan adanya reformasi Sepakbola Nasional. Kegerahan terhadap kondisi yang ada ini makin memuncak ketika Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menyerukan untuk dilangsungkannya Kongres Sepakbola Nasional yang diikuti tidak hanya oleh pelaku sepakbola yang terlibat didalam lapangan dan pengambil kebijakan dalam sistem sepakbola nasional,a akan tetapi juga diikuti oleh berbagai pihak dan elemen diluar itu yang respect terhadap kondisi sepakbola nasional, tidak terkecuali para jurnalis dan pengamat sepakbola.
Mandegnya hasil Kongres Sepakbola Nasional yang salah satunya menyerukan adanya reformasi membuat gerah para pihak terutama yang berada di luar sistem pengambil keputusan sepakbola nasional. Kegerahan dan kekecewaan itu semakin terakumulasi dan melibatkan banyak pihak termasuk taipan ternama Arifin Panigoro. Dengan menggelontorkan dana puluhan Milyar Rupiah, Arifin Panigoro yang juga dikenal penggila bola memotori jalannya LPI.
Berkiblat pada sistem kompetisi luar negeri khususnya eropa yang menganut sistem Industri Sepakbola dalam sistem kompetisinya, LPI digelar mulai 8 Januari 2011. Namun ada beberapa hal yang menurut pengamatan penulis lolos dari perhatian para penggagas LPI. Yang pertama adalah bahwa sistem kompetisi berbasis Industri Sepakbola di eropa adalah sistem kompetisi yang bersifat bottom up, sehingga setiap team yang mengikuti kompetisi telah masif sejak tingkatan bawah, mulai dari sistem pembinaan yang matang dan team-team binaannya, sehingga dengan dukungan (market) yang besar bisa dikatakan bahwa Industri akan berjalan dengan baik, karena sistem pasar akan berjalan dengan baik. Hal ini bertolak belakang dengan LPI yang lebih bersifat top down, dimana kompetisi ini bisa berjalan karena adanya kucuran dana yang luar biasa besar, dan sistem kendali yang tersentral di pusat. Yang kedua, sistem pembinaan sejak usia dini yang tidak atau belum diperhatikan dengan seksama di LPI mengancam masa depan masing-masing team, sehingga di khawatirkan LPI hanya akan menjadi industri, tanpa melahirkan dan membina sosok-sosok penuh talenta. Yang ketiga dan tidak kalah pentingnya, kucuran dana yang begitu besar akan memicu minat para pegiat proyek untuk mengajukan proposal proyek baru yaitu ......FC.
Seluruh elemen bangsa ini tentunya berharap ada 11 bintang lapangan hijau diantara 250juta rakyatnya yang berjuang memperjuangkan nama besar Indonesia di kancah Internasional. Hal tersebut tentunya memerlukan kerja keras dan ketulusan dari pihak-pihak terkait. Jika ada satu atau lebih orang yang tidak memiliki semangat kerja keras dan ketulusan berada di dalam suatu sistem, bukan berarti kemudian kita harus merombak dan merusak sistem tersebut. Semua pihak menyadari bahwa diperlukan adanya reformasi atau bahkan revolusi di tubuh PSSI, namun revolusi hanya akan berjalan jika di dukung secara masif dari bawah hingga keatas, bukan sebaliknya. (lek)
posted on : LPI, PSSI dan Reformasi Sepakbola Nasional
Olah raga voetbal atau Sepak bola diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia sejak akhir 1920, dan biasa dimainkan untuk meramaikan pasar malam. Lapangan Singa (Lapangan Banteng) menjadi saksi di mana orang Belanda sering menggelar pertandingan panca lomba (vijfkam) dan tienkam(dasa lomba). Khusus untuk sepak bola, serdadu di tangsi-tangsi militer paling sering bertanding. Mereka kemudian membentuk bond sepak bola atau perkumpulan sepak bola. Dari bond-bond itulah kemudian terbentuk satu klub besar. Tak hanya serdadu militer, tapi juga warga Belanda, Eropa, dan Indo membuat bond-bond serupa.
Dari bond-bond itu kemudian terbentuklah Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang pada tahun 1927 berubah menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU). Sampai tahun 1929, NIVU sering mengadakan pertandingan termasuk dalam rangka memeriahkan pasar malam dan tak ketinggalan sebagai ajang judi. Bond China menggunakan nama antara lain Tiong un Tong, Donar, dan UMS. Adapun bond pribumi biasanya mengambil nama wilayahnya, seperti Cahaya Kwitang, Sinar Kernolong, atau Si Sawo Mateng.
Pada 1928 dibentuk Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ) sebagai akibat dari diskriminasi yang dilakukan NIVB. Sebelumnya bahkan sudah dibentuk Persatuan Sepak Bola Djakarta (Persidja) pada 1925. Pada 19 April 1930, Persidja ikut membentuk Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di gedung Soceiteit Hande Projo, Yogyakarta. Pada saat itu Persidja menggunakan lapangan di Jalan Biak, Roxy, Jakpus.
Pada tahun 1930-an, di Indonesia berdiri tiga organisasi sepakbola berdasarkan suku bangsa, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang lalu berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) di tahun 1936 milik bangsa Belanda, Hwa Nan Voetbal Bond(HNVB) punya bangsa Tionghoa, dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) milik orang Indonesia.
Memasuki tahun 1930-an, pamor bintang lapangan Bond NIVB, G Rehatta dan de Wolf, mulai menemui senja berganti bintang lapangan bond China dan pribumi, seperti Maladi, Sumadi, dan Ernst Mangindaan. Pada 1933, VIJ keluar sebagai juara pada kejuaraan PSSI ke-3.
Pada 1938 Indonesia lolos ke Piala Dunia. Pengiriman kesebelasan Indonesia (Hindia Belanda) sempat mengalami hambatan. NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau organisasi sepak bola Belanda di Jakarta bersitegang dengan PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) yang telah berdiri pada bulan April 1930. PSSI yang diketuai Soeratin Sosrosoegondo, insinyur lulusan Jerman yang lama tinggal di Eropa, ingin pemain PSSI yang dikirimkan. Namun, akhirnya kesebelasan dikirimkan tanpa mengikutsertakan pemain PSSI dan menggunakan bendera NIVU yang diakui FIFA.
Pada masa Jepang, semua bond sepak bola dipaksa masuk Tai Iku Koi bentukan pemerintahan militer Jepang. Di masa ini, Taiso, sejenis senam, menggantikan olahraga permainan. Baru setelah kemerdekaan, olahraga permainan kembali semarak.
Tahun 1948, pesta olahraga bernama PON (Pekan Olahraga Nasional) diadakan pertama kali di Solo. Di kala itu saja, sudah 12 cabang olahraga yang dipertandingkan. Sejalan dengan olahraga permainan, khususnya sepak bola, yang makin populer di masyarakat, maka kebutuhan akan berbagai kelengkapan olahraga pun meningkat. Di tahun 1960-1970-an, pemuda Jakarta mengenal toko olahraga Siong Fu yang khusus menjual sepatu bola. Produk dari toko sepatu di Pasar Senen ini jadi andalan sebelum sepatu impor menyerbu Indonesia. Selain Pasar Senen, toko olahraga di Pasar Baru juga menyediakan peralatan sepakbola.
Pengaruh Belanda dalam dunia sepak bola di Indonesia adalah adanya istilah henbal, trekbal (bola kembali), kopbal (sundul bola), losbal (lepas bola), dan tendangan 12 pas. Istilah beken itu kemudian memudar manakala demam bola Inggris dimulai sehingga istilah-istilah tersebut berganti dengan istilah persepakbolaan Inggris. Sementara itu, hingga 1950 masih terdapat pemain indo di beberapa klub Jakarta. Sebut saja Vander Vin di klub UMS; Van den Berg, Hercules, Niezen, dan Pesch dari klub BBSA. Pemain indo mulai luntur di tahun 1960-an
Perjalanan panjang PSSI sejak dipimpin oleh Ketua Umum pertama Ir. Soeratin pada 1930 hingga saat ini telah melalui berbagai hal. Dan di sepanjang perjalannya itu, PSSI seakan-akan kehabisan tinta emas untuk menorehkan prestasinya baik di tingkatan regional maupun internasional. Lolosnya Tim Nasional Indonesia (waktu itu bernama Dutch East Indies = Hindia Belanda ) ke ajang Piala Dunia 1938, pada saat itu Tim Nasional yang lolos tidak berada di bawah kendali PSSI, melainkan NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau organisasi sepak bola Belanda di Jakarta, di bawah asuhan pelatih berkebangsaan Belanda Johannes Christoffel van Mastenbroek.
Di bawah PSSI melalui PT. Liga Indonesia (dahulu BLI) berlangsung beberapa tingkatankompetisi mulai dari Divisi I, Divisi Utama, dan yang paling atas adalah Liga Super Indonesia (LSI). Sebelumnya, sejarah panjang kompetisi di tanah air telah berlangsung sejak lama, diantaranya adala dualisme kompetisi Liga Sepakbola Utama (Galatama) yang mempertemukan team-team swasta non APBD dengan Liga Perserikatan, kemudian peleburan kedua liga tersebut menjadi Divisi-Divisi kompetisi yang terbagi dalam beberapa wilayah, hingga format kompetisi Liga Super Indonesia yang diikuti oleh 18 team dan menggunakan sistem kompetisi penuh (Home-Away).
Sejarah panjang yang membentuk kompetisi tersebut diikuti pula oleh sejarah panjang masing-masing team peserta Liga Super Indonesia. Sehingga masing-masing team peserta LSI disamping mengikuti kompetisi secara nasional, namun di bawahnya juga memiliki akademi pembinaan dan liga domestik yang diikuti oleh team-team binaan yang tersebar ke dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil, sehingga bisa dikatakan bahwa kompetisi LSI dan tingkatan dibawahnya adalah sistem kompetisi yang memiliki dukungan yang masif dan disertai pula dengan sistem pembinaan yang telah berlangsung sejak lama.
Di tahun 2011 atau tahun ke 8 (delapan) kepemimpinan Ketua Umum PSSI paling kontroversial dan minim prestasi Nurdin Halid, muncul gelaran kompetisi lain yang disebut dengan Liga Primer Indonesia (LPI). Berdalih meneruskan hasil Kongres Sepakbola Nasional yang berlangsung di Malang, Jawa Timur tahun sebelumnya, kompetisi yang dimotori oleh raja minyak Arifin Panigoro ini diikuti oleh 19 team yang 15 diantaranya adalah team yang baru terbentuk dan notabene tidak atau belum memiliki sistem pembinaan dan dukungan suporter yang masif. Analisa dari berbagai pihak, kemunculan LPI adalah akumulasi dari kekecawaan terhadap PSSI pimpinan duet Nurdin Halid dan Nugraha Besoes.
Jauh sebelumnya, kemunculan PSSI dibawah pimpinan Ir. Soeratin berawal dari semangat nasionalisme dan kebangsaan ketika pada saat itu, organisasi sepakbola yang ada adalah organisasi sepakbola yang berdasarkan atas suku bangsa. Sehingga dengan semangat nasionalisme dan kebangsaan Ir. Soeratin membentuk PSSI yang memiliki tugas mulia untuk mempersatukan bangsa melalui sepakbola.
Kondisi persepakbolaan nasional yang minim prestasi dan kerapkali diwarnai dengan ketidakpuasan dan kecurigaan adanya ketidakjujuran dan minimnya sportifitas di dalam kompetisi dalam negeri mengundang seluruh pelaku dan pengamat sepakbola nasional untuk menyuarakan adanya reformasi Sepakbola Nasional. Kegerahan terhadap kondisi yang ada ini makin memuncak ketika Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menyerukan untuk dilangsungkannya Kongres Sepakbola Nasional yang diikuti tidak hanya oleh pelaku sepakbola yang terlibat didalam lapangan dan pengambil kebijakan dalam sistem sepakbola nasional,a akan tetapi juga diikuti oleh berbagai pihak dan elemen diluar itu yang respect terhadap kondisi sepakbola nasional, tidak terkecuali para jurnalis dan pengamat sepakbola.
Mandegnya hasil Kongres Sepakbola Nasional yang salah satunya menyerukan adanya reformasi membuat gerah para pihak terutama yang berada di luar sistem pengambil keputusan sepakbola nasional. Kegerahan dan kekecewaan itu semakin terakumulasi dan melibatkan banyak pihak termasuk taipan ternama Arifin Panigoro. Dengan menggelontorkan dana puluhan Milyar Rupiah, Arifin Panigoro yang juga dikenal penggila bola memotori jalannya LPI.
Berkiblat pada sistem kompetisi luar negeri khususnya eropa yang menganut sistem Industri Sepakbola dalam sistem kompetisinya, LPI digelar mulai 8 Januari 2011. Namun ada beberapa hal yang menurut pengamatan penulis lolos dari perhatian para penggagas LPI. Yang pertama adalah bahwa sistem kompetisi berbasis Industri Sepakbola di eropa adalah sistem kompetisi yang bersifat bottom up, sehingga setiap team yang mengikuti kompetisi telah masif sejak tingkatan bawah, mulai dari sistem pembinaan yang matang dan team-team binaannya, sehingga dengan dukungan (market) yang besar bisa dikatakan bahwa Industri akan berjalan dengan baik, karena sistem pasar akan berjalan dengan baik. Hal ini bertolak belakang dengan LPI yang lebih bersifat top down, dimana kompetisi ini bisa berjalan karena adanya kucuran dana yang luar biasa besar, dan sistem kendali yang tersentral di pusat. Yang kedua, sistem pembinaan sejak usia dini yang tidak atau belum diperhatikan dengan seksama di LPI mengancam masa depan masing-masing team, sehingga di khawatirkan LPI hanya akan menjadi industri, tanpa melahirkan dan membina sosok-sosok penuh talenta. Yang ketiga dan tidak kalah pentingnya, kucuran dana yang begitu besar akan memicu minat para pegiat proyek untuk mengajukan proposal proyek baru yaitu ......FC.
Seluruh elemen bangsa ini tentunya berharap ada 11 bintang lapangan hijau diantara 250juta rakyatnya yang berjuang memperjuangkan nama besar Indonesia di kancah Internasional. Hal tersebut tentunya memerlukan kerja keras dan ketulusan dari pihak-pihak terkait. Jika ada satu atau lebih orang yang tidak memiliki semangat kerja keras dan ketulusan berada di dalam suatu sistem, bukan berarti kemudian kita harus merombak dan merusak sistem tersebut. Semua pihak menyadari bahwa diperlukan adanya reformasi atau bahkan revolusi di tubuh PSSI, namun revolusi hanya akan berjalan jika di dukung secara masif dari bawah hingga keatas, bukan sebaliknya. (lek)
posted on : LPI, PSSI dan Reformasi Sepakbola Nasional
Nasionalisme, Kapitalisasi dan Politisasi Sepak Bola (Kajian Kritis Euforia Timnas dan Kemunculan LPI)
Antusiasme Calon Penonton Timnas di Piala AFF 2010 (pic by eftianto.wordpress.com)
Beberapa saat terakhir perhatian kita semua Bangsa Indonesia seolah-olah terpusatkan pada kiprah dan polah sebelas lelaki perkasa diatas lapangan hijau. Di bawah asuhan pelatih kawakan asal Austria, sebelas lelaki tersebut telah menyihir puluhan ribu pasang mata di stadion dan jutaan pasang mata lainnya melalui layar kaca. Hadirnya beberapa bintang naturalisasi dan rancaknya permainan team menjadi campuran resep yang mampu memikat siapapun yang menikmatinya.
Timnas Indonesia menjelang laga pada penyisihan AFF 2010 (Pict by PAS)
Kegagahan mereka diatas lapangan menarik antusiasme dan minat yang luar biasa dari anak bangsa ini. Berbondong-bondong merekapun berebut tiket pertandingan yang semula, bahkan hingga pertandingan penyisihan terakhir piala AFF 2010 88.000 kapasitas Stadion Utama Gelora Bung Karno hanya mampu terisi setengah lebih sedikit. Sedikit lebih banyak dari pertandingan Timnas sebelum euforia terjadi. Entah apa yang masyarakat tunggu, sehingga baru pada saat semifinal Stadion terbesar di Nusantara dan pernah menjadi yang terbesar di Asia Tenggara ini baru penuh sesak dengan atribut dan yel-yel mendukung Laskar Garuda.
Sejenak, setiap kali menjelang pertandingan dan saat penjualan tiket berlangsung, Sekitar SU GBK pun seolah-olah menjadi pusat keramaian baru di Jakarta. Lalu lalang crew Media, harapan menyaksikan pertandingan, dan kecemasan jika tidak mendapatkan tiket pertandingan menjadi pemandangan yang lumrah kita saksikan. Hal inipun dimanfaatkan dengan baik dan ahli oleh beberapa orang yang memiliki kepentingan pribadi untuk memperkaya diri sendiri. Disamping itu, ulasan di berbagai media tentang Team Merah Putih dan berbagai hal disekitarnya seolah membangunkan kembali rasa Nasionalisme kita yang seolah-olah telah tidur panjang.
Hadirnya Laskar Perkasa yang seolah-olah baru keluar dari kawah Chandradimuka seolah-olah menjadi harapan baru rakyat negeri ini yang tengah berada di tengah kondisi yang carut marut. Kondisi carut marut yang belum dapat diatasi oleh pemerintah mengakibatkan rakyat negeri ini mendambakan sosok pahlawan. Dan kemunculan Laskar Garuda yang gagah perkasa seolah-olah menjadi jawaban akan apa yang didambakan rakyat Zamrud Khatulistiwa ini.
Membuncahnya antusiasme masyarakat yang terjadi menjadi ketertarikan tersendiri bagi mereka yang memiliki hasrat, ambisi dan kepentingan. Dengan didukung oleh kekuasaan, akses, dan kekayaan yang dimiliki mencoba berbagai daya dan upaya untuk memanfaatkan situasi yang terjadi. Sepak Bola seolah-olah menjadi alat kampanye baru sekaligus alat untuk mencapai kepentingan tertentu yang efektif. Terlebih lagi dengan dukungan media nasional yang akan mendongkrak popularitas menjadi lebih efektif. Dengan sedikit tambahan bumbu, popularitas tersebut akan menjadi simpati dan pada saatnya nanti, akan dapat menjadi sebuah pilihan politik.
Hal tersebut diatas, mau tidak mau membagi energi dan konsetrasi para punggawa Laskar Garuda yang seharusnya memusatkan konsentrasi dan do’anya untuk menghadapi pertandingan selanjutnya menjadi terpecah-pecah dengan keterpaksaan untuk mengikuti dan menghadiri berbagai program dan acara yang disusun oleh rezim penguasa Perserikatan Sepakbola.
Sejatinya, Team Nasional adalah produk dari sebuah system yang kompleks dan panjang. Sebagaimana Sepak Bola sendiri, merupakan sebuah system yang melibatkan banyak hal dan banyak pihak. Di mulai dari pembinaan yang baik dan tersistem terhadap bibit-bibit berbakat anak negeri, kemudian diterjunkan dalam kompetisi berjenjang yang berkualitas, akan menghasilkan sebuah team berkualitas yang diisi oleh bakat-bakat yang terdidik dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.
Di negeri ini, Sepak Bola sendiri seolah-olah sudah melampaui lebih dari sekedar batasan olah raga. Namun, sudah menjadi sebuah sub kultur tersendiri. Jika kita menengok kedalam, dalam kompetisi yang berlangsung, Team peserta kompetisi yang didalamnya memiliki sebuah system yang sudah berjalan bertahun-tahun termasuk diantaranya adalah pembinaan pemain usia dini, dan kompetisi internal, masing-masing team tersebut kemudian membentuk sebuah system yang lumrah kita kenal dengan “Liga”. Masing-masing peserta kompetisi tersebut yang dipisahkan oleh wilayah geografis juga memiliki dukungan dari masyarakat lokal dengan berbagai ciri khas dan keunikannya. Dukungan yang besar dan luar biasa, kerap kita menyebut dengan loyalitas dan fanatisme. Pada beberapa team peserta Liga, dukungan yang besar ini menjadi modal team untuk berpartisipasi dalam kompetisi. Sebut saja Arema Indonesia yang mengandalkan sebagian besar dana operasionalnya dalam mengikuti kompetisi dari pemasukan tiket suporter.
Pendek kata, sebuah kompetisi yang terbangun merupakan sebuah proses panjang bertahun-tahun dan dengan keterlibatan banyak pihak, serta bersifat bottom up. Agar kompetisi berjalan semakin baik maka perlu untuk ditangani secara lebih profesional, sehingga akan terjadi multiplayer effect yang baik. Misalkan, terbukanya ruang-ruang bisnis yang melibatkan dan menguntungkan banyak pihak termasuk team itu sendiri.
Ketika muncul sebuah wacana hadirnya sebuah kompetisi baru yang menggelontorkan dana hingga milyaran rupiah kepada masing-masing team peserta kompetisi, menimbulkan minat tersendiri bagi beberapa orang individu di beberapa daerah. Di tengah kondisi perekonomian negeri yang belum tertata dengan baik, kucuran dana milyaran rupiah tentunya akan menyebabkan air liur para pegiat proyek di daerah menetes deras. Dengan serta merta, Itikad baik untuk menciptakan liga yang sehat dengan mekanisme bisnis terkandung didalamnya disambut oleh para pegiat proyek didaerah dengan berlomba-lomba membuat team baru yang belum memiliki basis massa pendukung dan sistem pembinaan yang sistemik.
Dalam sekejap, puluhan klub baru bermunculan di berbagai daerah. Dan kucuran dana milyaran rupiahpun segera tersebar pula ke berbagai daerah. Mereka seolah-olah lupa bahwa system Kompetisi yang diciptakan mengkolaborasikan olah raga dan mekanisme bisnis yang berkelanjutan. Sehingga di dalamnya dibutuhkan pembinaan yang tersystem, antusiasme dan dukungan masyarakat yang memenuhi stadion sebagai pasar dari bisnis tersebut. Karena, sebuah Bisnis atau Usaha tanpa pasar hanya akan menjadi investasi merugi jangka pendek yang sia-sia dan dimanfaatkan dengan rakus oleh pegiat proyek untuk memperkaya diri sendiri. Dengan demikian Liga yang seharusnya menjadi Liga Primer hanya akan menjadi tak lebih dari Liga Proyek.
Kita semua tidak menutup mata, bahwa kompetisi yang sedang berjalan dibawah pengelolaan rezim yang menutup mata dan telinga terhadap kondisi dan tuntutan sekitar adalah kompetisi yang amat sangat tidak sehat. Namun, kompetisi ini telah berjalan bertahun-tahun dan telah berakulturasi dengan masyarakat, bahkan membentuk sub kultur tersendiri. Oleh karena itu, solusi untuk memperbaikinya bukanlah dengan membentuk system kompetisi baru yang diisi oleh klub-klub baru pula. Akan tetapi dengan mengurai secara perlahan dan satu persatu untuk mencari benang yang kusut. Ketika bagian yang kusut/rusak sudah ditemukan, tinggal kita lakukan upaya perbaikan atau jika tidak memungkinkan dilakukan pula pergantian spare part di beberapa bagian. (lek)
posted on : http://aremasenayan.com/2010/12/25/nasionalisme-kapitalisasi-dan-politisasi-sebak-bola-kajian-kritis-euforia-timnas-dan-kemunculan-lpi.php?preview=true&preview_id=1961&preview_nonce=4bf79a5cdf
Beberapa saat terakhir perhatian kita semua Bangsa Indonesia seolah-olah terpusatkan pada kiprah dan polah sebelas lelaki perkasa diatas lapangan hijau. Di bawah asuhan pelatih kawakan asal Austria, sebelas lelaki tersebut telah menyihir puluhan ribu pasang mata di stadion dan jutaan pasang mata lainnya melalui layar kaca. Hadirnya beberapa bintang naturalisasi dan rancaknya permainan team menjadi campuran resep yang mampu memikat siapapun yang menikmatinya.
Timnas Indonesia menjelang laga pada penyisihan AFF 2010 (Pict by PAS)
Kegagahan mereka diatas lapangan menarik antusiasme dan minat yang luar biasa dari anak bangsa ini. Berbondong-bondong merekapun berebut tiket pertandingan yang semula, bahkan hingga pertandingan penyisihan terakhir piala AFF 2010 88.000 kapasitas Stadion Utama Gelora Bung Karno hanya mampu terisi setengah lebih sedikit. Sedikit lebih banyak dari pertandingan Timnas sebelum euforia terjadi. Entah apa yang masyarakat tunggu, sehingga baru pada saat semifinal Stadion terbesar di Nusantara dan pernah menjadi yang terbesar di Asia Tenggara ini baru penuh sesak dengan atribut dan yel-yel mendukung Laskar Garuda.
Sejenak, setiap kali menjelang pertandingan dan saat penjualan tiket berlangsung, Sekitar SU GBK pun seolah-olah menjadi pusat keramaian baru di Jakarta. Lalu lalang crew Media, harapan menyaksikan pertandingan, dan kecemasan jika tidak mendapatkan tiket pertandingan menjadi pemandangan yang lumrah kita saksikan. Hal inipun dimanfaatkan dengan baik dan ahli oleh beberapa orang yang memiliki kepentingan pribadi untuk memperkaya diri sendiri. Disamping itu, ulasan di berbagai media tentang Team Merah Putih dan berbagai hal disekitarnya seolah membangunkan kembali rasa Nasionalisme kita yang seolah-olah telah tidur panjang.
Hadirnya Laskar Perkasa yang seolah-olah baru keluar dari kawah Chandradimuka seolah-olah menjadi harapan baru rakyat negeri ini yang tengah berada di tengah kondisi yang carut marut. Kondisi carut marut yang belum dapat diatasi oleh pemerintah mengakibatkan rakyat negeri ini mendambakan sosok pahlawan. Dan kemunculan Laskar Garuda yang gagah perkasa seolah-olah menjadi jawaban akan apa yang didambakan rakyat Zamrud Khatulistiwa ini.
Membuncahnya antusiasme masyarakat yang terjadi menjadi ketertarikan tersendiri bagi mereka yang memiliki hasrat, ambisi dan kepentingan. Dengan didukung oleh kekuasaan, akses, dan kekayaan yang dimiliki mencoba berbagai daya dan upaya untuk memanfaatkan situasi yang terjadi. Sepak Bola seolah-olah menjadi alat kampanye baru sekaligus alat untuk mencapai kepentingan tertentu yang efektif. Terlebih lagi dengan dukungan media nasional yang akan mendongkrak popularitas menjadi lebih efektif. Dengan sedikit tambahan bumbu, popularitas tersebut akan menjadi simpati dan pada saatnya nanti, akan dapat menjadi sebuah pilihan politik.
Hal tersebut diatas, mau tidak mau membagi energi dan konsetrasi para punggawa Laskar Garuda yang seharusnya memusatkan konsentrasi dan do’anya untuk menghadapi pertandingan selanjutnya menjadi terpecah-pecah dengan keterpaksaan untuk mengikuti dan menghadiri berbagai program dan acara yang disusun oleh rezim penguasa Perserikatan Sepakbola.
Sejatinya, Team Nasional adalah produk dari sebuah system yang kompleks dan panjang. Sebagaimana Sepak Bola sendiri, merupakan sebuah system yang melibatkan banyak hal dan banyak pihak. Di mulai dari pembinaan yang baik dan tersistem terhadap bibit-bibit berbakat anak negeri, kemudian diterjunkan dalam kompetisi berjenjang yang berkualitas, akan menghasilkan sebuah team berkualitas yang diisi oleh bakat-bakat yang terdidik dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.
Di negeri ini, Sepak Bola sendiri seolah-olah sudah melampaui lebih dari sekedar batasan olah raga. Namun, sudah menjadi sebuah sub kultur tersendiri. Jika kita menengok kedalam, dalam kompetisi yang berlangsung, Team peserta kompetisi yang didalamnya memiliki sebuah system yang sudah berjalan bertahun-tahun termasuk diantaranya adalah pembinaan pemain usia dini, dan kompetisi internal, masing-masing team tersebut kemudian membentuk sebuah system yang lumrah kita kenal dengan “Liga”. Masing-masing peserta kompetisi tersebut yang dipisahkan oleh wilayah geografis juga memiliki dukungan dari masyarakat lokal dengan berbagai ciri khas dan keunikannya. Dukungan yang besar dan luar biasa, kerap kita menyebut dengan loyalitas dan fanatisme. Pada beberapa team peserta Liga, dukungan yang besar ini menjadi modal team untuk berpartisipasi dalam kompetisi. Sebut saja Arema Indonesia yang mengandalkan sebagian besar dana operasionalnya dalam mengikuti kompetisi dari pemasukan tiket suporter.
Pendek kata, sebuah kompetisi yang terbangun merupakan sebuah proses panjang bertahun-tahun dan dengan keterlibatan banyak pihak, serta bersifat bottom up. Agar kompetisi berjalan semakin baik maka perlu untuk ditangani secara lebih profesional, sehingga akan terjadi multiplayer effect yang baik. Misalkan, terbukanya ruang-ruang bisnis yang melibatkan dan menguntungkan banyak pihak termasuk team itu sendiri.
Ketika muncul sebuah wacana hadirnya sebuah kompetisi baru yang menggelontorkan dana hingga milyaran rupiah kepada masing-masing team peserta kompetisi, menimbulkan minat tersendiri bagi beberapa orang individu di beberapa daerah. Di tengah kondisi perekonomian negeri yang belum tertata dengan baik, kucuran dana milyaran rupiah tentunya akan menyebabkan air liur para pegiat proyek di daerah menetes deras. Dengan serta merta, Itikad baik untuk menciptakan liga yang sehat dengan mekanisme bisnis terkandung didalamnya disambut oleh para pegiat proyek didaerah dengan berlomba-lomba membuat team baru yang belum memiliki basis massa pendukung dan sistem pembinaan yang sistemik.
Dalam sekejap, puluhan klub baru bermunculan di berbagai daerah. Dan kucuran dana milyaran rupiahpun segera tersebar pula ke berbagai daerah. Mereka seolah-olah lupa bahwa system Kompetisi yang diciptakan mengkolaborasikan olah raga dan mekanisme bisnis yang berkelanjutan. Sehingga di dalamnya dibutuhkan pembinaan yang tersystem, antusiasme dan dukungan masyarakat yang memenuhi stadion sebagai pasar dari bisnis tersebut. Karena, sebuah Bisnis atau Usaha tanpa pasar hanya akan menjadi investasi merugi jangka pendek yang sia-sia dan dimanfaatkan dengan rakus oleh pegiat proyek untuk memperkaya diri sendiri. Dengan demikian Liga yang seharusnya menjadi Liga Primer hanya akan menjadi tak lebih dari Liga Proyek.
Kita semua tidak menutup mata, bahwa kompetisi yang sedang berjalan dibawah pengelolaan rezim yang menutup mata dan telinga terhadap kondisi dan tuntutan sekitar adalah kompetisi yang amat sangat tidak sehat. Namun, kompetisi ini telah berjalan bertahun-tahun dan telah berakulturasi dengan masyarakat, bahkan membentuk sub kultur tersendiri. Oleh karena itu, solusi untuk memperbaikinya bukanlah dengan membentuk system kompetisi baru yang diisi oleh klub-klub baru pula. Akan tetapi dengan mengurai secara perlahan dan satu persatu untuk mencari benang yang kusut. Ketika bagian yang kusut/rusak sudah ditemukan, tinggal kita lakukan upaya perbaikan atau jika tidak memungkinkan dilakukan pula pergantian spare part di beberapa bagian. (lek)
posted on : http://aremasenayan.com/2010/12/25/nasionalisme-kapitalisasi-dan-politisasi-sebak-bola-kajian-kritis-euforia-timnas-dan-kemunculan-lpi.php?preview=true&preview_id=1961&preview_nonce=4bf79a5cdf
Orkestra Raksasa itu bernama Aremania
Tidaklah berlebihan jika suporter dikatakan sebagai pemain ke-12. Karena pada dasarnya, kekuatan yang dimiliki massa dalam setiap sejarah peradaban tidaklah dapat di pungkiri lagi. Kemudian, jika kita melihat keberagaman dan nyanyian serta sorak sorai yang dikumandangkan, jika anda pernah sekali saja berada dalam stadion Kanjuruhan ketika penuh sesak dengan Aremania yang sedang memberikan pada team kebanggaannya Singo Edan di lapangan, maka saya yakin akan timbul ledakan emosional pada diri anda. Perasaan haru biru, kebanggaan, terlarut dalam emosional yang dalam, ibarat anda adalah seorang penggemar orkestra yang sedang menyaksikan orkestra terbaik dengan lagu-lagu klasik terbaik dan lakon terbaik pula.
Belum lagi teriakan yel aba-aba, tabuhan genderang dan teriakan komando sebagaimana layaknya serdadu dalam peperangan. Mengutip apa yang ditulis oleh YB. Mangun Wijaya (alm) dalam "Tentara dan Kaum Bersenjata" yang pada bagian awal bukunya banyak mengupas tentang apa yang dilakukan Hitler terhadap Serdadu Nazi. Melihat Hitler sendiri, disamping kemampuan strateginya, kemampuan lain yang paling utama yang dimiliki oleh seorang Adolf Hitler adalah kemampuan berorasi. Sebagai seorang orator yang ulung, dia memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan mengendalikan psikologi massa. Di negeri ini, kita memiliki seorang Soekarno. Dimana, siapapun yang duduk mendengarkan orasi beliau akan terpuakau dan jatuh cinta pada pendengaran pertama. Kembali kepada Adolf Hitler, dia sangat menyadari keahliannya sebagai seorang orator ulung. Dan dia memiliki strategi dalam mempengaruhi massa. Secara psikologis, massa akan cenderung takjub melihat sesuatu yang anggun dan gagah, hal inilah yang dia bangun pada bala tentara Nazi. Dia penuhi segala kebutuhan atribut, lencana dan senjata, hal ini nampak sekali jika kita menyaksikan film Stallingard, perbedaan yang kontras sangat terlihat bagaimana cara berpakaian serdadu Jerman dan Rusia. Setelah dia lengkapi segala kebutuhan tersebut, dia kerahkan orang untuk melatih para serdadu keahlian dan ketrampilan menggunakan senjata (senam senjata). Dan dia kumpulkan massa dalam satu stadion untuk menyaksikan atraksi para serdadu tersebut berbaris dengan sepatu lapangan hingga menimbulkan bunyi yang menggetarkan, ketrampilan menggunakan senjata dan sekali-sekali di gerakkan hingga menimbulkan bunyi secara bersamaan. Dapat anda bayangkan jika anda berada dalam stadion tersebut, histeria, teriakan, dan tepukan tangan massa akan berbalik memberikan semangat serdadu yang beratraksi, sehingga dua kekuatan tersebut akan saling mendukung. Namun, tanpa disadari, damapak yang timbul adalah fanatisme massa yang menyaksikan kepada kekuatan serdadu dan kepercayaan serta kecintaan terhadap Fuhrer, sang pemimpin. Sebaliknya, apresiasi yang tinggi dari massa akan menimbulkan dampak yang sama terhadap serdadu, kepercayaan diri, dan kecintaan terhadap massanya menjadi semakin tinggi. Ya, sihir inilah yang dimainkan oleh seorang Adolf Hitler.
Kembali ke Stadion Kanjuruhan, dan Aremania yang memberikan dukungan kepada Singo Edan. Tentu saja, kondisi di Kanjuruhan tidak dapat disamakan dengan sihir Hitler. Akan tetapi, saya mencoba menarik benang merah dari psiklogi massa yang terbangun dan loyalitas pemain yang timbul. Saya lebih cenderung melihat Aremania di Kanjuruhan sebagai sebuah orkestra raksasa yang memberikan sihir yang lain. Jika pada orkestra biasa, sihir yang ditampilkan akan berdampak pada perasaan haru terhadap audiencenya. Akan tetapi, jika kita melihat yang terjadi di Kanjuruhan, yang terjadi justru sebaliknya, alunan nada yang ditampilkan orkestra raksasa bernama Aremania itu justru menimbulkan semangat tanding yang tinggi dan energi tambahan bagi para pemain. Sebaliknya, bagi team lawan, yang mereka rasakan justru sebaliknya, jika para pemain lawan tidakmemiliki mental bertanding dan mental juara yang tinggi, yang terjadi adalah rasa kecil hati dan merasa kalah sebelum bertanding. Hal ini sangat berbeda dengan jika orkestra raksasa itu menyanyikan lagu yang menyudutkan, menghina dan mencaci team lawan, yang timbul justru semangat dan mental bertanding yang tinggi akibat membela harga dirinya. Itu pula sebabnya, mengapa suporter yang banyak menyanyikan lagu sumbang justru berbuah boomerang bagi teamnya sendiri.
Oleh karena itu, tulisan ini sekaligus memberikan himbuan kepada nawak-nawak untuk terus menyanyikan lagu yang mendukung dan membuang lagu-lagu rasisme. Salam 1 Jiwa (lek.)
posted on : http://lapanganrumput.wordpress.com/2010/06/15/orkestra-raksasa-itu-bernama-aremania/
Belum lagi teriakan yel aba-aba, tabuhan genderang dan teriakan komando sebagaimana layaknya serdadu dalam peperangan. Mengutip apa yang ditulis oleh YB. Mangun Wijaya (alm) dalam "Tentara dan Kaum Bersenjata" yang pada bagian awal bukunya banyak mengupas tentang apa yang dilakukan Hitler terhadap Serdadu Nazi. Melihat Hitler sendiri, disamping kemampuan strateginya, kemampuan lain yang paling utama yang dimiliki oleh seorang Adolf Hitler adalah kemampuan berorasi. Sebagai seorang orator yang ulung, dia memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan mengendalikan psikologi massa. Di negeri ini, kita memiliki seorang Soekarno. Dimana, siapapun yang duduk mendengarkan orasi beliau akan terpuakau dan jatuh cinta pada pendengaran pertama. Kembali kepada Adolf Hitler, dia sangat menyadari keahliannya sebagai seorang orator ulung. Dan dia memiliki strategi dalam mempengaruhi massa. Secara psikologis, massa akan cenderung takjub melihat sesuatu yang anggun dan gagah, hal inilah yang dia bangun pada bala tentara Nazi. Dia penuhi segala kebutuhan atribut, lencana dan senjata, hal ini nampak sekali jika kita menyaksikan film Stallingard, perbedaan yang kontras sangat terlihat bagaimana cara berpakaian serdadu Jerman dan Rusia. Setelah dia lengkapi segala kebutuhan tersebut, dia kerahkan orang untuk melatih para serdadu keahlian dan ketrampilan menggunakan senjata (senam senjata). Dan dia kumpulkan massa dalam satu stadion untuk menyaksikan atraksi para serdadu tersebut berbaris dengan sepatu lapangan hingga menimbulkan bunyi yang menggetarkan, ketrampilan menggunakan senjata dan sekali-sekali di gerakkan hingga menimbulkan bunyi secara bersamaan. Dapat anda bayangkan jika anda berada dalam stadion tersebut, histeria, teriakan, dan tepukan tangan massa akan berbalik memberikan semangat serdadu yang beratraksi, sehingga dua kekuatan tersebut akan saling mendukung. Namun, tanpa disadari, damapak yang timbul adalah fanatisme massa yang menyaksikan kepada kekuatan serdadu dan kepercayaan serta kecintaan terhadap Fuhrer, sang pemimpin. Sebaliknya, apresiasi yang tinggi dari massa akan menimbulkan dampak yang sama terhadap serdadu, kepercayaan diri, dan kecintaan terhadap massanya menjadi semakin tinggi. Ya, sihir inilah yang dimainkan oleh seorang Adolf Hitler.
Kembali ke Stadion Kanjuruhan, dan Aremania yang memberikan dukungan kepada Singo Edan. Tentu saja, kondisi di Kanjuruhan tidak dapat disamakan dengan sihir Hitler. Akan tetapi, saya mencoba menarik benang merah dari psiklogi massa yang terbangun dan loyalitas pemain yang timbul. Saya lebih cenderung melihat Aremania di Kanjuruhan sebagai sebuah orkestra raksasa yang memberikan sihir yang lain. Jika pada orkestra biasa, sihir yang ditampilkan akan berdampak pada perasaan haru terhadap audiencenya. Akan tetapi, jika kita melihat yang terjadi di Kanjuruhan, yang terjadi justru sebaliknya, alunan nada yang ditampilkan orkestra raksasa bernama Aremania itu justru menimbulkan semangat tanding yang tinggi dan energi tambahan bagi para pemain. Sebaliknya, bagi team lawan, yang mereka rasakan justru sebaliknya, jika para pemain lawan tidakmemiliki mental bertanding dan mental juara yang tinggi, yang terjadi adalah rasa kecil hati dan merasa kalah sebelum bertanding. Hal ini sangat berbeda dengan jika orkestra raksasa itu menyanyikan lagu yang menyudutkan, menghina dan mencaci team lawan, yang timbul justru semangat dan mental bertanding yang tinggi akibat membela harga dirinya. Itu pula sebabnya, mengapa suporter yang banyak menyanyikan lagu sumbang justru berbuah boomerang bagi teamnya sendiri.
Oleh karena itu, tulisan ini sekaligus memberikan himbuan kepada nawak-nawak untuk terus menyanyikan lagu yang mendukung dan membuang lagu-lagu rasisme. Salam 1 Jiwa (lek.)
posted on : http://lapanganrumput.wordpress.com/2010/06/15/orkestra-raksasa-itu-bernama-aremania/
Langganan:
Postingan (Atom)