AREMA INDONESIA
Keberadaan Suporter tidak akan bisa dipisahkan dari Club Sepakbola. Dalam berbagai tingkatannya Club Sepakbola apakah itu ditingkatan kampung, instansi, komunitas, Kota, Negara, ataupun kelompok masyarakat yang lain selalu memiliki pendukung atau suporter seberapapun kecilnya. Dukungan dari luar lapangan oleh suporter ini memberikan tambahan semangat bagi 11 orang pemain yang berlaga di atas rumput untuk mencetak goal sebanyak-banyaknya dan menjaga gawangnya agar seminimal mungkin kemasukan bola.
Suatu hal yang menarik bahwa di Indonesia, dukungan besar terhadap sebuah team olahraga hanya terdapat pada olahraga Sepakbola, dan bukan hanya sebatas dukungan dari tribun stadion, namun kebanggaan terhadap club yang dibelanya sudah membentuk fanatisme bahkan di beberapa daerah sudah membentuk sub kulter tersendiri. Lihat saja bagaimana di daerah Malang Raya (Kotamadya Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu) tempat domisili sebagian besar Aremania (pendukung Club Arema Indonesia), Arema sudah menjadi sub kultur tersendiri. Hal ini diperluas di berbagai daerah dimana para migran asal daerah ini berdomisili, dimana pada masing-masing wilayah yang ditinggali mereka akan membentuk komunitas Aremania tersendiri di kawasannya, yang memberikan dukungan dari jauh kepada team yang dipujanya, juga memberikan dukungan kepada team Arema Indonesia ketika berlaga di wilayahnya atau wilayah yang berdekatan dengan wilayahnya, sehingga adanya slogan Arema tidak kemana-mana ada dimana-mana pun menjadi slogan yang tidak asing lagi.
Jargon loyalitas tanpa batas, gelar suporter terbaik yang pernah diberikan kepada Aremania, dan adanya kesadaran tinggi untuk menjunjung tinggi sportifitas dalam membela clubnya menimbulkan applause tersendiri bagi masyarakat asli yang berdomisili dimana para migran dari Malang Raya membentuk komunitas Aremania. Dan pada kelanjutannya, sebagian dari komunitas masyarakat lokal yang notabene kebanyakan adalah pendukung team lokal beralih mendukung Arema Indonesia dan memproklamirkan diri menjadi seorang Aremania.
Besarnya dukungan Aremania di pelosok tanah air, dan bahkan hingga di luar negeri sayangnya berbanding terbalik dengan kondisi finansial dan manajerial di Arema Indonesia. Sejak berdiri pada tahun 1987 hampir setiap tahun kendala yang sama selalu menghantui team Arema Indonesia (dulu Arema Malang). Dukungan fanatik puluhan ribu Suporter yang kerap membeli tiket dan memenuhi Stadion tempat Arema berlaga nampaknya masih belum mampu memutar roda kehidupan Team secara Maksimal. Biaya pertandingan away, gaji dan kontrak pemain, pelatih dan pegawai, serta biaya operasional lainnya masih belum tertutup oleh pemasukan dari segi tiket dan besaran sponsorship yang masuk. Pemasukan dari sektor merchandise pun nampaknya juga masih belum mampu di optimalkan bukan hanya oleh Arema Indonesia, tapi juga oleh banyak club di Indonesia. Padahal, diluar negeri pemasukan dari sektor merchandise ini menjadi salah satu andalan pemasukan club.
Jumlah puluhan ribu yang kerap hadir memberikan dukungan langsung dan juga masih banyak lagi yang tidak tertampung di Stadion serta yang masih tersebar di luar kota adalah potensi yang luar biasa bagi pengembangan bisnis club. Sektor andalan merchandise adalah kontribusi yang bisa menjadi pemasukan andalan bagi club. Namun, maraknya produksi merchandise baik itu kaos, syal ataupun yang lain menjadi faktor lain yang juga harus diperhatikan oleh pihak manajemen club, putaran ekonomi masyarakat lokal yang cukup besar karena keberadaan club adalah dampak positif yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga mau tidak mau, dari segi merchandise, club harus memikirkan ulang strategi yang digunakan agar perekonomian sebagian masyarakat yang ikut berputar dari merchandise club tidak terabaikan.
Hal lain yang bisa dioptimalkan dan sudah berjalan di beberapa negara sepakbola besar adalah konsep kepemilikan club oleh suporter. Berdasarkan konsep keanggotaan sebagaimana yang diterapkan di Barcelona FC besarnya dukungan Aremania di seluruh Indonesia dan beberapa negara lain menjadi potensi yang luar biasa untuk menjaga kesinambungan club. Dengan beranggotakan 170.000 socios Barcelona FC muncul menjadi kekuatan raksasa di dunia sepakbola. Bukan hanya dari segi prestasi, tapi Barcelona FC juga menjadi salah satu club terkaya di dunia. Barcelona berada diperingkat kedua club terkaya dengan kekayaan 398,1 Juta Euro atau sekitar Rp. 4,831 Trilliun dibawah Real Madrid dengan kekayaan 438,6 Juta Euro atau sekitar Rp 5,322 Trilliun. Uniknya Real Madrid juga club dengan basis keanggotaan dengan 100.000 socios.
Seorang socios pada club Barcelona FC berkewajiban untuk memberikan iuran sebesar 170 euro setiap tahunnya. Sebagai gambaran kapasitas stadion Home Barcelona FC Nou Camp adalah sebesar sekitar 98.000 dengan harga tiket setiap pertandingan reguler liganya sekitar 50-80 euro. Dengan perbandingan tersebut, jika Stadion Kanjuruhan (Home Arema) memiliki kapasitas sekitar 30.000 orang dan harga tiket Rp. 25.000,- maka asumsi untuk Arema Indonesia adalah sekitar 60.000 orang anggota dengan iuran sekitar Rp. 225.000,- pertahun. Dengan angka UMR Kota Malang diatas Rp.900.000 artinya untuk menyisihkan Rp. 18.750 perbulan untuk mencapai Rp.225.000 pertahun adalah angka yang cukup realistis bagi sebagaian besar masyarakat kota Malang.
Dengan mengumpulkan Rp.225.000 dari 60.000 anggota akan terkumpul senilai Rp. 13,5 M. Jumlah yang cukup besar untuk memulai kompetisi disamping potensi pemasukan lain dari tiket yang jika melihat dari musim sebelumnya mencapai kisaran sekitar Rp. 4 M dan ditambah pemasukan dari sponsorship serta pengelolaan merchandise yang baik akan dapat untuk menutup biaya operasional club untuk satu musim kompetisi.
Besaran 60.000 anggota perkumpulan pemilik club juga akan membuka potensi bisnis yang luar biasa serta tawaran menggiurkan bagi investor. Hak untuk memperoleh informasi pertama terkait dengan club yang disosialisasikan secara rutin baik melalui pesan singkat, email, ataupun media cetak yang memiliki pelanggan pasti 60.000 orang akan menjadi tawaran yang menggiurkan bagi sponsorship, belum lagi pengelolaan keuangan, ticketting, dan faktor finansial lainnya menjadikan potensi bagi manajemen club untuk menggandeng pihak perbankan.
Pengelolaan yang profesional, pengawasan terhadap pengelolaan oleh suporter akan meningkatkan kinerja Manejemen Club menjadi lebih baik. Investasi besar yang berasal dari luar juga sangat mungkin untuk diundang dalam meningkatkan asset club. Pembangunan Stadion yang terpadu dengan aktivitas masyarakat terkait dengan sepakbola seperti museum, taman bermain, pasar (plaza) atribut, dll menjadi potensi yang sangat besar dan mampu menciptakan pemberdayaan masyarakat terutama di sekitar stadion.
Dan pada akhirnya, satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah komunikasi yang baik dan kesinambungan antara Club dengan Suporter menjadi satu hal yang juga patut untuk dipertimbangkan pada terwujudnya konsep ini, terutama pada Arema Indonesia.
(Makalah ini disajikan pada Dialog Terbuka Kepemilikan Club Berbasis Suporter yang diselenggarakan oleh PP OTODA FH – UB bekerjasama dengan Satubola.)
Mengenai Saya
- Moenir
- Jakarta, DKI, Indonesia
- Abdullah Hariri (Hamba Allah yang lembut) demikian bapakku berharap seperti apa aku. Kakekku yang bijakpun tak lupa menyertakan harapannya terhadapku dengan menghadiahkan sebuah nama Moenir (yang bersinar terang). Lahir dan besar di tanah pemberani, dibesarkan oleh seorang penjual minyak tanah yang bijak,menjadi piatu sejak usia 2 tahun, namun tak pernah lepas dari kasih sayang orang tua...
12 Juli 2011
Membranding Aremania, mungkinkah?
Dalam dunia industri olahraga, terutama sepakbola. Disamping sebagai pemain ke-12 yang secara non-teknis memberikan dukungan dari tepi lapangan, tidak dapat dipungkiri faktor suporter memegang peranan penting. Penggemar fanatik club ini menjadi pasar yang potensial bagi berjalannya industri Sepakbola. Bahkan ketika sebuah sponsorship masuk untuk kedalam sebuah club sepakbola, faktor dukungan dan besaran suporter menjadi salah satu pertimbangan.
Selama ini Logo Sponsor hanya melekat pada Jersey Pemain (Pict : http://j.mp/jT1kzT)
Selama ini, pihak sponsorship tentunya juga mempertimbangkan besaran dan dukungan suporter dalam memberikan sponsor kepada sebuah club. Dalam dunia marketing hal ini tentunya wajar karena terkait dengan seberapa luas branding produk sponsor akan tersebar. Semakin besar dan luas jangkauan suporter sebuah club tentunya branding produk juga akan semakin tersebar luas.
Memang tidak ada jaminan peningkatan penjualan produk tersebut, sebagaimana jika sebuah produsen memasang iklan di layar televisi yang berbeda rate-nya antara jam primetime dengan jam tengah malam misalnya, juga tidak ada jaminan akan terjadi peningkatan penjualan produk yang signifikan jika memasang iklan pada jam primetime yang harganya jauh lebih mahal dibanding pada acara biasa ditengah malam. Namun ekspektasi dengan semakin banyak disaksikan oleh pemirsa, branding produk akan semakin tersebar luas.
Memasang branding atau memberikan sponsor pada sebuah club sepakbola tentunya berbeda dengan memasang iklan pada media cetak/elektronik. Memasang iklan pada media cetak/elektronik bisa diibaratkan hanya sebatas memiliki fungsi publikasi dan sosialisasi bahwa sebuah produk ada dan memiliki keunggulan dibanding produk sejenis lainnya. Sebuah club sepakbola seperti Arema Indonesia menggantungkan keberlangsungannya pada banyak sektor, termasuk diantaranya sektor bisnis dan sponsorship. Ikatan emosional yang kuat antara Arema dengan Aremania tidak hanya sekedar menyebarkan branding sponsor Arema kepada Aremania saja, tapi adanya kesadaran Aremania bahwa pihak sponsor turut menjaga keberlangsungan nafas Arema Indonesia, club yang dicintai akan membentuk image dan opini positif, bahkan kecintaan bagi Aremania terhadap sponsor Arema. Hal ini akan menimbulkan dampak peningkatan secara signifikan penggunaan produk sponsor di kalangan Aremania.
Selama ini, pemasangan logo sponsor hanya terbatas pada jersey yang digunakan pemain dan event-event yang diadakan oleh club dan manajemennya. Secara fisik kemampuan pandang suporter atau penonton di dalam stadion memiliki keterbatasan untuk bisa menyaksikan secara detail logo apa saja yang terpampang pada jersey pemain. Jika pemasangan dilakukan pada A-Board yang mengelilingi lapangan pertandingan, keterbatasan dari berbagai sisi yang berbeda juga akan mengurangi jumlah penonton yang menyimak logo produk tersebut, disamping fokus dan perhatian utama adalah pada bola dan lapangan pertandingan, bukan pada sekitarnya.
Salah satu kaos yg Biasa digunakan Aremania ke Stadion. Masih ada ruang untuk Sponsor. (Pic : http://j.mp/l58Ag4)
Berbeda halnya jika logo sponsor dipasang pada kaos yang digunakan Aremania untuk mendukung Arema. Sudah pasti logo sponsor akan disaksikan secara langsung oleh Suporter yang hadir di Stadion, belum lagi pemirsa yang menyaksikan siarang langsung dari televisi, masih ditambah lagi masyarakat yang melihat suporter pulang dan pergi menuju Stadion, dan tentunya juga keluarga dan orang-orang yang tinggal dilingkungan pemakai kaos tinggal.
Secara hitung2an kasar, Jika satu Kaos bersponsor yang digunakan oleh Aremania dilihat oleh 10 orang yang dilewati dalam perjalanan ke stadion, kemudian di dalam stadion dilihat oleh 3 orang disekelilingnya, selanjutnya dirumahnya dia memiliki 5 orang keluarga, dan ketika mengenakan diluar pertandingan dia berkumpul dengan 10 orang disekitar lingkungannya, maka didapatkan angka 10+3+5+10 = 28 orang penyebaran branding sponsor. Jika Kaos digunakan oleh 10.000 orang suporter saja dari kapasitas Stadion lebih dari 30.000 orang, sudah dicapai 280.000 orang. Belum lagi yang menyaksikan melalui siaran langsung dan ditambah lagi faktor emosional kecintaan Aremania terhadap Arema.
Secara nilai ekonomi, tentunya opsi terakhir dengan memasang logo pada kaos yang digunakan Aremania memiliki nilai ekonomi yang lebih besar bagi produsen. Efek branding akan tersebar secara lebih luas dan lebih melekat pada Aremania. Pertanyaannya adalah apakah Aremania bersedia meluangkan bagian tubuhnya untuk mengenakan kaos bersponsor demi Arema? (lek)
posted on : http://aremasenayan.com/2011/05/07/mem-branding-aremania-mungkinkah.php?preview=true&preview_id=2773&preview_nonce=f00e2e3fd3
Selama ini Logo Sponsor hanya melekat pada Jersey Pemain (Pict : http://j.mp/jT1kzT)
Selama ini, pihak sponsorship tentunya juga mempertimbangkan besaran dan dukungan suporter dalam memberikan sponsor kepada sebuah club. Dalam dunia marketing hal ini tentunya wajar karena terkait dengan seberapa luas branding produk sponsor akan tersebar. Semakin besar dan luas jangkauan suporter sebuah club tentunya branding produk juga akan semakin tersebar luas.
Memang tidak ada jaminan peningkatan penjualan produk tersebut, sebagaimana jika sebuah produsen memasang iklan di layar televisi yang berbeda rate-nya antara jam primetime dengan jam tengah malam misalnya, juga tidak ada jaminan akan terjadi peningkatan penjualan produk yang signifikan jika memasang iklan pada jam primetime yang harganya jauh lebih mahal dibanding pada acara biasa ditengah malam. Namun ekspektasi dengan semakin banyak disaksikan oleh pemirsa, branding produk akan semakin tersebar luas.
Memasang branding atau memberikan sponsor pada sebuah club sepakbola tentunya berbeda dengan memasang iklan pada media cetak/elektronik. Memasang iklan pada media cetak/elektronik bisa diibaratkan hanya sebatas memiliki fungsi publikasi dan sosialisasi bahwa sebuah produk ada dan memiliki keunggulan dibanding produk sejenis lainnya. Sebuah club sepakbola seperti Arema Indonesia menggantungkan keberlangsungannya pada banyak sektor, termasuk diantaranya sektor bisnis dan sponsorship. Ikatan emosional yang kuat antara Arema dengan Aremania tidak hanya sekedar menyebarkan branding sponsor Arema kepada Aremania saja, tapi adanya kesadaran Aremania bahwa pihak sponsor turut menjaga keberlangsungan nafas Arema Indonesia, club yang dicintai akan membentuk image dan opini positif, bahkan kecintaan bagi Aremania terhadap sponsor Arema. Hal ini akan menimbulkan dampak peningkatan secara signifikan penggunaan produk sponsor di kalangan Aremania.
Selama ini, pemasangan logo sponsor hanya terbatas pada jersey yang digunakan pemain dan event-event yang diadakan oleh club dan manajemennya. Secara fisik kemampuan pandang suporter atau penonton di dalam stadion memiliki keterbatasan untuk bisa menyaksikan secara detail logo apa saja yang terpampang pada jersey pemain. Jika pemasangan dilakukan pada A-Board yang mengelilingi lapangan pertandingan, keterbatasan dari berbagai sisi yang berbeda juga akan mengurangi jumlah penonton yang menyimak logo produk tersebut, disamping fokus dan perhatian utama adalah pada bola dan lapangan pertandingan, bukan pada sekitarnya.
Salah satu kaos yg Biasa digunakan Aremania ke Stadion. Masih ada ruang untuk Sponsor. (Pic : http://j.mp/l58Ag4)
Berbeda halnya jika logo sponsor dipasang pada kaos yang digunakan Aremania untuk mendukung Arema. Sudah pasti logo sponsor akan disaksikan secara langsung oleh Suporter yang hadir di Stadion, belum lagi pemirsa yang menyaksikan siarang langsung dari televisi, masih ditambah lagi masyarakat yang melihat suporter pulang dan pergi menuju Stadion, dan tentunya juga keluarga dan orang-orang yang tinggal dilingkungan pemakai kaos tinggal.
Secara hitung2an kasar, Jika satu Kaos bersponsor yang digunakan oleh Aremania dilihat oleh 10 orang yang dilewati dalam perjalanan ke stadion, kemudian di dalam stadion dilihat oleh 3 orang disekelilingnya, selanjutnya dirumahnya dia memiliki 5 orang keluarga, dan ketika mengenakan diluar pertandingan dia berkumpul dengan 10 orang disekitar lingkungannya, maka didapatkan angka 10+3+5+10 = 28 orang penyebaran branding sponsor. Jika Kaos digunakan oleh 10.000 orang suporter saja dari kapasitas Stadion lebih dari 30.000 orang, sudah dicapai 280.000 orang. Belum lagi yang menyaksikan melalui siaran langsung dan ditambah lagi faktor emosional kecintaan Aremania terhadap Arema.
Secara nilai ekonomi, tentunya opsi terakhir dengan memasang logo pada kaos yang digunakan Aremania memiliki nilai ekonomi yang lebih besar bagi produsen. Efek branding akan tersebar secara lebih luas dan lebih melekat pada Aremania. Pertanyaannya adalah apakah Aremania bersedia meluangkan bagian tubuhnya untuk mengenakan kaos bersponsor demi Arema? (lek)
posted on : http://aremasenayan.com/2011/05/07/mem-branding-aremania-mungkinkah.php?preview=true&preview_id=2773&preview_nonce=f00e2e3fd3
Universalitas Aremania
Kreafitias Aremania (sumbergambar : Lintas jatim)
Nek tail arema dan aremania kita seperti melihat miniatur bangsa Indonesia. Ono sing asli Malang yang bangga dengan identitasnya, ono sing pendatang yang ikut bangga dengan lingkungannya. Ono malah sing kadit osi ngomong owoj tapi gak pernah absen ke stadion setiap arema Niam. Di luar Malang, bahkan ada yang tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Malang, namun bangga beridentitas sebagai Aremania. Mereka semua bangga dengan identitas dan atribut yang mereka gunakan. Mereka semua mencintai satu hal yang sama. Mereka semua bersatu karena satu alasan.
Hari ini aremania sudah menjadi komunitas nasional. Kera-kera Ngalam sudah menyebar dari sabang sampai merauke. Dari Aceh sampai Papua. Nawak-nawak yang ada dimanapun, mari kita tularkan Jiwa dan Semangat Aremania dilingkungan kita masing-masing
Yang terlihat disini Arema dan Aremania adalah miniatur dari Indonesia. Seandainya saja warga republik ini memiliki jiwa dan semangat seperti aremania untuk satu Indonesia. Niscaya tidak akan pernah terjadi konflik-konflik yang dengan isu sara yang pernah terjadi di beberapa daerah. Seandainya saja masyarakat republik ini memiliki kedewasaan seperti arema dan aremania, toleransi seperti arema dan aremania, tidak akan pernah ada tawuran suporter.
Beberapa saat yang lalu hingga saat ini, Arema Indonesia seolah menjadi bahan pembicaraan yang tidak ada habisnya. Prestasi Arema Indonesia yang relatif stabil menghuni papan atas klasemen Liga Indonesia sejak musim lalu, di satu sisi menjadi kebanggaan bagi kita semua, dan hal ini berdampak dengan semakin diminatinya setiap pertandingan Arema Indonesia dimanapun berlaga, bahkan pertandingan tandang di beberapa daerah adalah pertandingan dengan rekor penonton terbanyak untuk team lawan.
Disisi lain, kontribusi suporter (Aremania) yang luar biasa, menjadi pangsa pasar tersendiri bagi perekonomian kota Malang (sayang masih belum berimbas banyak ke sponsor). Penjualan segala macam atribut yang terkait dengan Arema Indonesia meningkat drastis, omzet penjual mulai kaos, stiker, mulai yang di jual ritel di pinggir jalan, pasar, distro, kios, bedak, sampai yang di jual online seolah tak pernah lelah menguras kantung pembeli.
Namun, beberapa berita miring sempat menerjang team kebanggaan Aremania ini. Lihat saja beberapa bulan yang lalu ketika majalah tempo melibatkan Arema Indonesia dalam catatan investigasinya mengenai KoruPPSSI kontan menimbulkan reaksi negatif dari berbagai pihak, terlepas investigasi tersebut terdapat beberapa kesalahan data dan ternyata juga tidak melakukan konfirmasi dan klarifikasi kepada beberapa pihak yang berkompeten seperti manajemen Arema Indonesia, sehingga menyebabkan validitas investigasi secara keseluruhan dipertanyakan.
Dampak dari pemberitaan tersebut adalah banyak pihak menganggap Aremania adalah kelompok yang antipati terhadap perubahan yang saat ini sedang didengungkan ditubuh PSSI, meskipun di hampir setiap kesempatan Aremania selalu hadir. Beberapa penolakan yang dilakukan Aremania adalah penolakan terhadap keberpihakan kepada beberapa orang yang terang-terang memiliki ambisi lebih dalam menyuarakan perubahan. Bagi Aremania gerakan Revolusi PSSI adalah gerakan Moral, dan ketika gerakan Moral berubah menjadi gerakan politik untuk kepentingan tertentu, apakah secara moral kita masih harus terlibat didalam gerakan tersebut?.
Menengok Aremania sendiri, di Malang Raya, jauh sebelum musim ISL 2010/2011, Arema dan Aremania telah menjadi subkultur tersendiri bagi masyarakat Malang Raya. Nama team "Arema" yang di artikan sebagai "Arek Malang" telah menjadi identitas bagi masyarakat Malang Raya dimanapun berada. Terlebih lagi dengan bahasa pergaulan yang mereka miliki dan identik atau di kenal dengan boso walikan, seolah mempertegas identitas ini. Namun jika kita tengok lebih dalam lagi, apakah Aremania ini hanya identik dengan masyarakat Malang Raya? ternyata tidak, selain masyarakat asli dari Malang Raya, simpatisan Arema atau yang menyebut dirinya dengan Aremania/ta tidak hanya berasal dari warga asli Malang Raya ataupun keturunan Malang. Banyak kita melihat beberapa orang yang notabene bukan orang Malang, dan bahkan belum pernah ke Malang, adalah Aremania/ta. Suatu fenomena yang unik tentunya, jika Hotman Siahaan, seorang sosiolog Universitas Airlangga yang mengatakan bahwa kultur sepakbola di Indonesia berangkat dari primordialisme (http://beritajatim.com/detailnews.php/5/Olahraga/2010-03-28/60111/Sepakbola_Indonesia_Gamang). Sedangkan dalam pranala Wikipedia secara terminologi dan etimologi memaknai Primordialisme sebagai berikut :
Primordialisme adalah sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya.
Etimologi
Primordialisme berasal dari kata bahasa Latin primus yang artinya pertama dan ordiri yang artinya tenunan atau ikatan.
Ikatan seseorang pada kelompok yang pertama dengan segala nilai yang diperolehnya melalui sosialisasi akan berperan dalam membentuk sikap primordial. Di satu sisi, sikap primordial memiliki fungsi untuk melestarikan budaya kelompoknya. Namun, di sisi lain sikap ini dapat membuat individu atau kelompok memiliki sikap etnosentrisme, yaitu suatu sikap yang cenderung bersifat subyektif dalam memandang budaya orang lain. Mereka akan selalu memandang budaya orang lain dari kacamata budayanya. Hal ini terjadi karena nilai-nilai yang telah tersosialisasi sejak kecil sudah menjadi nilai yang mendarah daging (internalized value) dan sangatlah susah untuk berubah dan cenderung dipertahankan bila nilai itu sangat menguntungkan bagi dirinya. Terdapat 2 jenis etnosentris yaitu: 1. etnosentris infleksibel yakni suatu sikap yang cenderung bersifat subyektif dalam memandang budaya atau tingkah laku orang lain, 2. Etnosentris fleksibel yakni suatu sikap yang cenderung menilai tingkah laku orang lain tidak hanya berdasarkan sudut pandang budaya sendiri tetapi juga sudut pandang budaya lain. Tidak selamanya primordial merupakan tindakan salah. Akan tetapi bisa disaja dinilai sebagai sesuatu yang mesti dipertahankan. Dalam sudut pandang ajaran (ritual) misalnya. Perilaku primordialisne merupakan unsur terpenting, saat memberlakukan ajaran intinya.
Melihat pemaknaan diatas, Primordialisme memiliki kecenderungan untuk membentuk sebuah kultur,dan lebih bersifat kedaerahan. Namun yang menjadi perhatian kita adalah, apa yang menjadi magnet bagi sebagian masyarakat dari luar Malang untuk menjadi Simpatisan klub asal kota Malang?
Ada beberapa hal yang dapat menjadi bahan analisa kita.
Kreatifitas Aremania. Dalam setiap laga kandang dan tandang, dimana Aremania selalu memberikan dukungan dalam bentuk atraksi yang menarik, nyanyian dan lagu2 yang memberikan semangat dan menghibur, tarian yang atraktif.
Sportifitas Aremania. Kalah dan menang adalah bagian dari permainan, dan setiap kemenangan adalah kado terindah bagi Aremania, sedangkan kekalahan bukanlah menjadi alasan untuk membuat ulah dan kerusuhan seperti yang dilakukan beberapa kelompok suporter lain dan uniknya, media seolah-olah sangat hobi sekali untuk mengekspose hal hal semacam ini (kerusuhan suporter) dibanding persahabatan suporter.
Pesan Damai. Aremania selalu membuka tangan lebar-lebar bagi siapapun suporter team Tamu yang berkunjung ke Malang. Dan hal ini tentunya berbalas dengan sambutan meriah mereka jika Aremania berkunjung. Lambat laun, hal ini menjalin persahabatan yang semakin meluas, sehingga hampir di semua tempat di negeri ini, Aremania adalah sahabat yang baik. Mereka datang dengan damai, membeli tiket dengan tertib, dan pulang tanpa meninggalkan jejak kerusuhan.
Dan tentunya masih ada daftar yang lebih panjang untuk menjadi alasannya. Akan tetapi yang dapat kita lihat saat ini, bahwa Aremania tidak hanya mempersempit Indonesia dalam satu stadion Kanjuruhan saja, akan tetapi Aremania telah menerjemahkan arti sebenarnya dari Bhinneka Tunggal Ika. Di dalam stadion kita mendukung team yang berbeda, namun di luar stadion kita adalah saudara. Dan dari sini, dapat kita tarik bahwa lagu "Padamu Negeri" yang dinyanyikan di Kandang Singa setiap Arema akan berlaga tidak hanya menjadi lagu kosong yang hanya sekedar di nyanyikan, akan tetapi bentuk aktualisasinya telah dilakukan dalam pola pemikiran, pola laku, dan pola tindak.
Hari ini aremania sudah menjadi komunitas nasional. Kera-kera Ngalam sudah menyebar dari sabang sampai merauke. Dari Aceh sampai Papua. Nawak-nawak yang ada dimanapun, mari kita tularkan Jiwa dan Semangat Aremania dilingkungan kita masing-masing. (lek).
posted on : http://aremasenayan.com/2011/04/12/universalitas-aremania.php?preview=true&preview_id=2660&preview_nonce=c59b66c894
Nek tail arema dan aremania kita seperti melihat miniatur bangsa Indonesia. Ono sing asli Malang yang bangga dengan identitasnya, ono sing pendatang yang ikut bangga dengan lingkungannya. Ono malah sing kadit osi ngomong owoj tapi gak pernah absen ke stadion setiap arema Niam. Di luar Malang, bahkan ada yang tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Malang, namun bangga beridentitas sebagai Aremania. Mereka semua bangga dengan identitas dan atribut yang mereka gunakan. Mereka semua mencintai satu hal yang sama. Mereka semua bersatu karena satu alasan.
Hari ini aremania sudah menjadi komunitas nasional. Kera-kera Ngalam sudah menyebar dari sabang sampai merauke. Dari Aceh sampai Papua. Nawak-nawak yang ada dimanapun, mari kita tularkan Jiwa dan Semangat Aremania dilingkungan kita masing-masing
Yang terlihat disini Arema dan Aremania adalah miniatur dari Indonesia. Seandainya saja warga republik ini memiliki jiwa dan semangat seperti aremania untuk satu Indonesia. Niscaya tidak akan pernah terjadi konflik-konflik yang dengan isu sara yang pernah terjadi di beberapa daerah. Seandainya saja masyarakat republik ini memiliki kedewasaan seperti arema dan aremania, toleransi seperti arema dan aremania, tidak akan pernah ada tawuran suporter.
Beberapa saat yang lalu hingga saat ini, Arema Indonesia seolah menjadi bahan pembicaraan yang tidak ada habisnya. Prestasi Arema Indonesia yang relatif stabil menghuni papan atas klasemen Liga Indonesia sejak musim lalu, di satu sisi menjadi kebanggaan bagi kita semua, dan hal ini berdampak dengan semakin diminatinya setiap pertandingan Arema Indonesia dimanapun berlaga, bahkan pertandingan tandang di beberapa daerah adalah pertandingan dengan rekor penonton terbanyak untuk team lawan.
Disisi lain, kontribusi suporter (Aremania) yang luar biasa, menjadi pangsa pasar tersendiri bagi perekonomian kota Malang (sayang masih belum berimbas banyak ke sponsor). Penjualan segala macam atribut yang terkait dengan Arema Indonesia meningkat drastis, omzet penjual mulai kaos, stiker, mulai yang di jual ritel di pinggir jalan, pasar, distro, kios, bedak, sampai yang di jual online seolah tak pernah lelah menguras kantung pembeli.
Namun, beberapa berita miring sempat menerjang team kebanggaan Aremania ini. Lihat saja beberapa bulan yang lalu ketika majalah tempo melibatkan Arema Indonesia dalam catatan investigasinya mengenai KoruPPSSI kontan menimbulkan reaksi negatif dari berbagai pihak, terlepas investigasi tersebut terdapat beberapa kesalahan data dan ternyata juga tidak melakukan konfirmasi dan klarifikasi kepada beberapa pihak yang berkompeten seperti manajemen Arema Indonesia, sehingga menyebabkan validitas investigasi secara keseluruhan dipertanyakan.
Dampak dari pemberitaan tersebut adalah banyak pihak menganggap Aremania adalah kelompok yang antipati terhadap perubahan yang saat ini sedang didengungkan ditubuh PSSI, meskipun di hampir setiap kesempatan Aremania selalu hadir. Beberapa penolakan yang dilakukan Aremania adalah penolakan terhadap keberpihakan kepada beberapa orang yang terang-terang memiliki ambisi lebih dalam menyuarakan perubahan. Bagi Aremania gerakan Revolusi PSSI adalah gerakan Moral, dan ketika gerakan Moral berubah menjadi gerakan politik untuk kepentingan tertentu, apakah secara moral kita masih harus terlibat didalam gerakan tersebut?.
Menengok Aremania sendiri, di Malang Raya, jauh sebelum musim ISL 2010/2011, Arema dan Aremania telah menjadi subkultur tersendiri bagi masyarakat Malang Raya. Nama team "Arema" yang di artikan sebagai "Arek Malang" telah menjadi identitas bagi masyarakat Malang Raya dimanapun berada. Terlebih lagi dengan bahasa pergaulan yang mereka miliki dan identik atau di kenal dengan boso walikan, seolah mempertegas identitas ini. Namun jika kita tengok lebih dalam lagi, apakah Aremania ini hanya identik dengan masyarakat Malang Raya? ternyata tidak, selain masyarakat asli dari Malang Raya, simpatisan Arema atau yang menyebut dirinya dengan Aremania/ta tidak hanya berasal dari warga asli Malang Raya ataupun keturunan Malang. Banyak kita melihat beberapa orang yang notabene bukan orang Malang, dan bahkan belum pernah ke Malang, adalah Aremania/ta. Suatu fenomena yang unik tentunya, jika Hotman Siahaan, seorang sosiolog Universitas Airlangga yang mengatakan bahwa kultur sepakbola di Indonesia berangkat dari primordialisme (http://beritajatim.com/detailnews.php/5/Olahraga/2010-03-28/60111/Sepakbola_Indonesia_Gamang). Sedangkan dalam pranala Wikipedia secara terminologi dan etimologi memaknai Primordialisme sebagai berikut :
Primordialisme adalah sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya.
Etimologi
Primordialisme berasal dari kata bahasa Latin primus yang artinya pertama dan ordiri yang artinya tenunan atau ikatan.
Ikatan seseorang pada kelompok yang pertama dengan segala nilai yang diperolehnya melalui sosialisasi akan berperan dalam membentuk sikap primordial. Di satu sisi, sikap primordial memiliki fungsi untuk melestarikan budaya kelompoknya. Namun, di sisi lain sikap ini dapat membuat individu atau kelompok memiliki sikap etnosentrisme, yaitu suatu sikap yang cenderung bersifat subyektif dalam memandang budaya orang lain. Mereka akan selalu memandang budaya orang lain dari kacamata budayanya. Hal ini terjadi karena nilai-nilai yang telah tersosialisasi sejak kecil sudah menjadi nilai yang mendarah daging (internalized value) dan sangatlah susah untuk berubah dan cenderung dipertahankan bila nilai itu sangat menguntungkan bagi dirinya. Terdapat 2 jenis etnosentris yaitu: 1. etnosentris infleksibel yakni suatu sikap yang cenderung bersifat subyektif dalam memandang budaya atau tingkah laku orang lain, 2. Etnosentris fleksibel yakni suatu sikap yang cenderung menilai tingkah laku orang lain tidak hanya berdasarkan sudut pandang budaya sendiri tetapi juga sudut pandang budaya lain. Tidak selamanya primordial merupakan tindakan salah. Akan tetapi bisa disaja dinilai sebagai sesuatu yang mesti dipertahankan. Dalam sudut pandang ajaran (ritual) misalnya. Perilaku primordialisne merupakan unsur terpenting, saat memberlakukan ajaran intinya.
Melihat pemaknaan diatas, Primordialisme memiliki kecenderungan untuk membentuk sebuah kultur,dan lebih bersifat kedaerahan. Namun yang menjadi perhatian kita adalah, apa yang menjadi magnet bagi sebagian masyarakat dari luar Malang untuk menjadi Simpatisan klub asal kota Malang?
Ada beberapa hal yang dapat menjadi bahan analisa kita.
Kreatifitas Aremania. Dalam setiap laga kandang dan tandang, dimana Aremania selalu memberikan dukungan dalam bentuk atraksi yang menarik, nyanyian dan lagu2 yang memberikan semangat dan menghibur, tarian yang atraktif.
Sportifitas Aremania. Kalah dan menang adalah bagian dari permainan, dan setiap kemenangan adalah kado terindah bagi Aremania, sedangkan kekalahan bukanlah menjadi alasan untuk membuat ulah dan kerusuhan seperti yang dilakukan beberapa kelompok suporter lain dan uniknya, media seolah-olah sangat hobi sekali untuk mengekspose hal hal semacam ini (kerusuhan suporter) dibanding persahabatan suporter.
Pesan Damai. Aremania selalu membuka tangan lebar-lebar bagi siapapun suporter team Tamu yang berkunjung ke Malang. Dan hal ini tentunya berbalas dengan sambutan meriah mereka jika Aremania berkunjung. Lambat laun, hal ini menjalin persahabatan yang semakin meluas, sehingga hampir di semua tempat di negeri ini, Aremania adalah sahabat yang baik. Mereka datang dengan damai, membeli tiket dengan tertib, dan pulang tanpa meninggalkan jejak kerusuhan.
Dan tentunya masih ada daftar yang lebih panjang untuk menjadi alasannya. Akan tetapi yang dapat kita lihat saat ini, bahwa Aremania tidak hanya mempersempit Indonesia dalam satu stadion Kanjuruhan saja, akan tetapi Aremania telah menerjemahkan arti sebenarnya dari Bhinneka Tunggal Ika. Di dalam stadion kita mendukung team yang berbeda, namun di luar stadion kita adalah saudara. Dan dari sini, dapat kita tarik bahwa lagu "Padamu Negeri" yang dinyanyikan di Kandang Singa setiap Arema akan berlaga tidak hanya menjadi lagu kosong yang hanya sekedar di nyanyikan, akan tetapi bentuk aktualisasinya telah dilakukan dalam pola pemikiran, pola laku, dan pola tindak.
Hari ini aremania sudah menjadi komunitas nasional. Kera-kera Ngalam sudah menyebar dari sabang sampai merauke. Dari Aceh sampai Papua. Nawak-nawak yang ada dimanapun, mari kita tularkan Jiwa dan Semangat Aremania dilingkungan kita masing-masing. (lek).
posted on : http://aremasenayan.com/2011/04/12/universalitas-aremania.php?preview=true&preview_id=2660&preview_nonce=c59b66c894
Vox Populi Vox Dei
Vox Populi Vox Dei, ucapan tersebut seringkali kita dengar dalam berbagai hal yang terkait dengan konteks politik dan demokrasi. Arti dari Kalimat berbahasa Yunani tersebut kurang lebih adalah “suara rakyat suara Tuhan”. Bukan dalam arti kata mempersonifikasikan Tuhan ataupun sebaliknya, menuhankan peran manusia, Kalimat ini lebih berarti mengenai betapa besar kekuasaan yang dimiliki oleh rakyat, dalam arti kata, dalam suatu konsep pemerintahan demokratis, keputusan tertinggi berada di tangan rakyat. Tentunya tidak mungkin diartikan secara harfiah bahwa setiap rakyat berhak untuk mengeluarkan keputusannya sendiri-sendiri, namun ada mekanisme tertentu yang dianut dengan cara yang berbeda-beda oleh masing-masing wilayah teritorial yang berada dalam batasan wilayah Negara.
Dalam konteks sepak bola, dalam hal ini adalah club sepakbola, sebagaimana sedikit diuraikan dalam artikel sebelumnya (Baca : Go A Head Arema Indonesia), bahwa di bebeapa negara Sepakbola maju telah menganut suatu system dimana kepemilikan sebuah club bukan lagi berada di tangan pengusaha konglomerasi pemegang saham, namun beralih pada Suporter. Dalam konsep kepemilikan sebelumnya pun, dimana club sepakbola dimiliki oleh para Pengusaha yang kebanyakan konglomerat memiliki sebuah club dalam bentuk saham. Dalam kutipan dari Wikipedia, saham itu sendiri adalah satuan nilai atau pembukuan dalam berbagai instrumen finansial yang mengacu pada bagian kepemilikan sebuah perusahaan. Dengan demikian, kepemilikan club yang di wujudkan dalam bentuk saham menimbulkan pengertian bahwa club tersebut berbentuk Perusahaan (Badan usaha). Sedangkan Perusahaan adalah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya semua faktor produksi, dengan tujuan dan fungsi usaha adalah untuk mendapatkan untung (profit) dengan cara yang sah menurut hukum.
Sepakbola itu sendiri sebelumnya hanyalah sebatas salah satu jenis olah raga yang dimainkan oleh 2 team yang masing-masing beranggotakan sebelas orang dengan peraturan-peraturan yang telah disepakati. Dalam era industrialisasi sepak bola, Sepak Bola mengalami perluasan makna menjadi profesi yang “mempekerjakan” orang-orang yang profesional dibawah satu kelembagaan formal yang berorientasi pada hasil atau keuntungan. Profit oriented ini menjadi ciri khas suatu industri dimana para pelaku industri adalah pengusaha dengan perusahaannya. Dengan konsep seperti ini, maka juara tidak lagi hanya sebatas menjadi gelar, namun akan menjadi pencapaian ekspektasi tertinggi dari kinerja suatu team, dan yang paling penting, juara juga akan menjadi nilai jual yang tinggi bagi pelaku usaha didalamnya.
Dalam suatu upaya usaha, konsekuensi yang didapatkan adalah jika tidak mendapatkan keuntungan, maka akan merugi. Kondisi ini juga lumrah terjadi di dunia industri sepakbola. Ketika sebuah club mengalami keuntungan besar, maka dia akan berupaya untuk lebih meningkatkan nilai jualnya, dengan cara misalnya melakukan pembelian pemain-pemain tersohor dengan harapan bisa meraup untung besar dari merchandise/appareal resmi yang mencantumkan nama dan nomor punggung pemain tersebut. Dalam konteks bisnis hal ini adalah hal yang sangat luar biasa, namun dalam konteks kebutuhan suatu team, belum tentu pembelian pemain ini akan membuat kinerja (permainan) team menjadi lebih baik. Dan ketika sebuah club mengalami kerugian, maka sebaik apapun team yang dimiliki club tersebut harus siap untuk menanggung resiko, seperti yang terjadi pada Fiorentina beberapa tahun yang lalu misalnya, ketika dinyatkaan pailit, dan dianggap tidak mampu mengikuti kompetisi (dari segi finansial) maka salah satu dari The Magnificient Sevent ini harus siap untuk di degradasi secara paksa.
Beberapa club besar saat ini juga tengah mengalami ancaman serupa, seperti halnya Manchester United, akibat pembelian yang dilakukan oleh Glazer dengan cara hutang dan penanganan manajemen yang salah, maka salah satu club terbesar di EPL ini saat ini harus menanggung hutang dalam jumlah yang hampir setara dengan APBN kita. Menengok apa yang telah sukses dilakukan Barcelona beberapa tahun terakhir, melihat pula bagaimana Bundesliga menjadi liga paling sehat dan paling profit di Eropa meskipun dengan harga tiket paling murah di Eropa, Red Army (suprter MU) berupaya mengumpulkan dana untuk membeli club dari Glazer. Kepemilikan club oleh suporter menjadi trend baru di dunia Sepak Bola Eropa bisa jadi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dan tentunya, faktor paling dominan adalah dukungan dan kecintaan suporter terhadap team. Dalam industri sepakbola pun, faktor ini (suporter) juga dianggap salah satu faktor dominan. Dengan dukungan suporter/fans club yang besar dan menggurita di seluruh dunia, bisa dipastikan bisnis akan berjalan dengan lancar, brand dari pihak sponsor pun akan dikenal semakin luas.
Namun, adanya resiko bisnis yang juga cukup besar menjadikan berbagai club menjadi was-was akan mengalami resiko terburuk. Dan untuk mengantisipasi hal itu, atas dasar loyalitas dan kecintaan, suporter mengambil alih kepemilikan club. Dengan dimiliki oleh suporter, yang mendukung secara total dan tidak mengharapkan tendensi keuntungan, diharapkan keberlanjutan sebuah club dalam kompetisi akan dapat terjaga.
Loyalitas Aremania, Potensi besar Arema Indonesia
Hal ini mungkin hal baru untuk diterapkan di Negara kita, alih-alih kepemilikan oleh suporter, Era sepakbola industri saja kita belum pernah mengalami. Tapi jika di tempat lain sudah memberikan kita pelajaran bahwa sepak bola industri adalah cara yang kurang bijak dalam membangun dunia persepakbolaan, dan orang lain telah menyediakan kesimpulan kepada kita, kenapa kita harus bereksperimen ikut melaluinya?. Dengan besarnya basis dukungan dan loyalitas yang luar biasa yang ditunjukkan oleh suporter di tanah air, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa konsep kepemilikan club oleh suporter adalah cara yang paling tepat untuk menjadikan lebih maju dunia persepakbolaan kita.
Yang harus dipahami adalah kepemilikan club oleh suporter bukan berarti kemudian club akan dikelola oleh suporter. Dan juga tidak perlu ada ketakutan akan terjadi perpecahan diinternal pendukung ketika berbicara profit club. Jika kita mengaju pada apa yang dilakukan oleh Barcelona, mekanisme yang dianut adalah dengan menggunakan suatu wadah atau perkumulan. Dengan beranggotakan 170.000 (seratus tujuh puluh ribu orang) dimana masing-masing anggota membayar iuran sebesar 140 Euro setiap tahunnya. Jumlah ini, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga tiket terusan untuk satu musim pertandingan (harga tiket untuk kelas termurah rata-rata adalah 84 Euro). Selanjutnya dana segar yang diperolah dari iuran tersebut akan digunakan untuk operasional perkumpulan yang membawahi club.
Dalam sebuah perkumpulan dengan jumlah anggota sebanyak itu, tentunya dibutuhkan suatu mekanisme keterwakilan untuk menyuarakan segala keputusan dan kebijakan perkumpulan. Dalam hal ini, perkumpulan secara rutin dan periodik menyelenggarakan sebuah mekanisme pemilihan presiden/dewan eksekutif dalam sebuah kongres yang diikuti oleh representasi dari seluruh peserta perkumpulan tersebut. Ada mekanisme tepisah pula untuk memilih perwakilan yang akan hadir di dalam kongres.
Selanjutnya, dewan eksekutif yang terpilih akan menduduki posisi setara dengan komisaris dalam dunia industri sepakbola. Sedangkan posisi direksi dan kebawah adalah para pekerja profesional yang bekerja di digaji secara profesional sebagaimana layaknya club sepakbola. Peran-peran usaha seperti ticketing, sponsorship, merchandise, dll tetap ada. Dan jika setelah dilakukan perhitungan di akhir musim ternyata club mendapatkan profit, maka Barcelona (perkumpulan) sepakat untuk mengalokasikan seluruh profit tersebut dalam bentuk sosial. Ada berbagai lembaga sosial yang dibiayai dan di sumbang oleh Barcelona, yang paling nampak adalah yang dalam beberapa tahun terakhir selalu menemani di jersey team yaitu Unicef, sebuah lembaga sosial dibawah PBB yang bergerak untuk anak-anak dan pendidikan. Dengan kata lain, secara tidak langsung perkumpulan Barcelona ada karena fungsi sosial yang dia miliki.
Dapat kita bayangkan jika hal ini terjadi di negara kita, khususnya Malang, yang memiliki basis suporter terkuat di Indonesia, dengan sebaran yang tidak hanya berada di Malang Raya, namun tersebar di seluruh pelosok nusantara bahkan di luar negeri. Tentunya besarnya basis suporter ini menjadikan potensi untuk pemilikan club berbasis suporter dan jika dilaksanakan berbarengan dengan mengemban fungsi sosial yang diutamakan untuk wilayah Malang Raya, maka pembangunan dan perbaikan diberbagai bidang akan dilaksanakan dan di support oleh kita sendiri. Semoga ini bukan hanya sebatas mimpi. (lek)
posted on : http://aremasenayan.com/2011/04/09/vox-populi-vox-dei.php?preview=true&preview_id=2643&preview_nonce=771b05128a
Dalam konteks sepak bola, dalam hal ini adalah club sepakbola, sebagaimana sedikit diuraikan dalam artikel sebelumnya (Baca : Go A Head Arema Indonesia), bahwa di bebeapa negara Sepakbola maju telah menganut suatu system dimana kepemilikan sebuah club bukan lagi berada di tangan pengusaha konglomerasi pemegang saham, namun beralih pada Suporter. Dalam konsep kepemilikan sebelumnya pun, dimana club sepakbola dimiliki oleh para Pengusaha yang kebanyakan konglomerat memiliki sebuah club dalam bentuk saham. Dalam kutipan dari Wikipedia, saham itu sendiri adalah satuan nilai atau pembukuan dalam berbagai instrumen finansial yang mengacu pada bagian kepemilikan sebuah perusahaan. Dengan demikian, kepemilikan club yang di wujudkan dalam bentuk saham menimbulkan pengertian bahwa club tersebut berbentuk Perusahaan (Badan usaha). Sedangkan Perusahaan adalah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya semua faktor produksi, dengan tujuan dan fungsi usaha adalah untuk mendapatkan untung (profit) dengan cara yang sah menurut hukum.
Sepakbola itu sendiri sebelumnya hanyalah sebatas salah satu jenis olah raga yang dimainkan oleh 2 team yang masing-masing beranggotakan sebelas orang dengan peraturan-peraturan yang telah disepakati. Dalam era industrialisasi sepak bola, Sepak Bola mengalami perluasan makna menjadi profesi yang “mempekerjakan” orang-orang yang profesional dibawah satu kelembagaan formal yang berorientasi pada hasil atau keuntungan. Profit oriented ini menjadi ciri khas suatu industri dimana para pelaku industri adalah pengusaha dengan perusahaannya. Dengan konsep seperti ini, maka juara tidak lagi hanya sebatas menjadi gelar, namun akan menjadi pencapaian ekspektasi tertinggi dari kinerja suatu team, dan yang paling penting, juara juga akan menjadi nilai jual yang tinggi bagi pelaku usaha didalamnya.
Dalam suatu upaya usaha, konsekuensi yang didapatkan adalah jika tidak mendapatkan keuntungan, maka akan merugi. Kondisi ini juga lumrah terjadi di dunia industri sepakbola. Ketika sebuah club mengalami keuntungan besar, maka dia akan berupaya untuk lebih meningkatkan nilai jualnya, dengan cara misalnya melakukan pembelian pemain-pemain tersohor dengan harapan bisa meraup untung besar dari merchandise/appareal resmi yang mencantumkan nama dan nomor punggung pemain tersebut. Dalam konteks bisnis hal ini adalah hal yang sangat luar biasa, namun dalam konteks kebutuhan suatu team, belum tentu pembelian pemain ini akan membuat kinerja (permainan) team menjadi lebih baik. Dan ketika sebuah club mengalami kerugian, maka sebaik apapun team yang dimiliki club tersebut harus siap untuk menanggung resiko, seperti yang terjadi pada Fiorentina beberapa tahun yang lalu misalnya, ketika dinyatkaan pailit, dan dianggap tidak mampu mengikuti kompetisi (dari segi finansial) maka salah satu dari The Magnificient Sevent ini harus siap untuk di degradasi secara paksa.
Beberapa club besar saat ini juga tengah mengalami ancaman serupa, seperti halnya Manchester United, akibat pembelian yang dilakukan oleh Glazer dengan cara hutang dan penanganan manajemen yang salah, maka salah satu club terbesar di EPL ini saat ini harus menanggung hutang dalam jumlah yang hampir setara dengan APBN kita. Menengok apa yang telah sukses dilakukan Barcelona beberapa tahun terakhir, melihat pula bagaimana Bundesliga menjadi liga paling sehat dan paling profit di Eropa meskipun dengan harga tiket paling murah di Eropa, Red Army (suprter MU) berupaya mengumpulkan dana untuk membeli club dari Glazer. Kepemilikan club oleh suporter menjadi trend baru di dunia Sepak Bola Eropa bisa jadi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dan tentunya, faktor paling dominan adalah dukungan dan kecintaan suporter terhadap team. Dalam industri sepakbola pun, faktor ini (suporter) juga dianggap salah satu faktor dominan. Dengan dukungan suporter/fans club yang besar dan menggurita di seluruh dunia, bisa dipastikan bisnis akan berjalan dengan lancar, brand dari pihak sponsor pun akan dikenal semakin luas.
Namun, adanya resiko bisnis yang juga cukup besar menjadikan berbagai club menjadi was-was akan mengalami resiko terburuk. Dan untuk mengantisipasi hal itu, atas dasar loyalitas dan kecintaan, suporter mengambil alih kepemilikan club. Dengan dimiliki oleh suporter, yang mendukung secara total dan tidak mengharapkan tendensi keuntungan, diharapkan keberlanjutan sebuah club dalam kompetisi akan dapat terjaga.
Loyalitas Aremania, Potensi besar Arema Indonesia
Hal ini mungkin hal baru untuk diterapkan di Negara kita, alih-alih kepemilikan oleh suporter, Era sepakbola industri saja kita belum pernah mengalami. Tapi jika di tempat lain sudah memberikan kita pelajaran bahwa sepak bola industri adalah cara yang kurang bijak dalam membangun dunia persepakbolaan, dan orang lain telah menyediakan kesimpulan kepada kita, kenapa kita harus bereksperimen ikut melaluinya?. Dengan besarnya basis dukungan dan loyalitas yang luar biasa yang ditunjukkan oleh suporter di tanah air, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa konsep kepemilikan club oleh suporter adalah cara yang paling tepat untuk menjadikan lebih maju dunia persepakbolaan kita.
Yang harus dipahami adalah kepemilikan club oleh suporter bukan berarti kemudian club akan dikelola oleh suporter. Dan juga tidak perlu ada ketakutan akan terjadi perpecahan diinternal pendukung ketika berbicara profit club. Jika kita mengaju pada apa yang dilakukan oleh Barcelona, mekanisme yang dianut adalah dengan menggunakan suatu wadah atau perkumulan. Dengan beranggotakan 170.000 (seratus tujuh puluh ribu orang) dimana masing-masing anggota membayar iuran sebesar 140 Euro setiap tahunnya. Jumlah ini, jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga tiket terusan untuk satu musim pertandingan (harga tiket untuk kelas termurah rata-rata adalah 84 Euro). Selanjutnya dana segar yang diperolah dari iuran tersebut akan digunakan untuk operasional perkumpulan yang membawahi club.
Dalam sebuah perkumpulan dengan jumlah anggota sebanyak itu, tentunya dibutuhkan suatu mekanisme keterwakilan untuk menyuarakan segala keputusan dan kebijakan perkumpulan. Dalam hal ini, perkumpulan secara rutin dan periodik menyelenggarakan sebuah mekanisme pemilihan presiden/dewan eksekutif dalam sebuah kongres yang diikuti oleh representasi dari seluruh peserta perkumpulan tersebut. Ada mekanisme tepisah pula untuk memilih perwakilan yang akan hadir di dalam kongres.
Selanjutnya, dewan eksekutif yang terpilih akan menduduki posisi setara dengan komisaris dalam dunia industri sepakbola. Sedangkan posisi direksi dan kebawah adalah para pekerja profesional yang bekerja di digaji secara profesional sebagaimana layaknya club sepakbola. Peran-peran usaha seperti ticketing, sponsorship, merchandise, dll tetap ada. Dan jika setelah dilakukan perhitungan di akhir musim ternyata club mendapatkan profit, maka Barcelona (perkumpulan) sepakat untuk mengalokasikan seluruh profit tersebut dalam bentuk sosial. Ada berbagai lembaga sosial yang dibiayai dan di sumbang oleh Barcelona, yang paling nampak adalah yang dalam beberapa tahun terakhir selalu menemani di jersey team yaitu Unicef, sebuah lembaga sosial dibawah PBB yang bergerak untuk anak-anak dan pendidikan. Dengan kata lain, secara tidak langsung perkumpulan Barcelona ada karena fungsi sosial yang dia miliki.
Dapat kita bayangkan jika hal ini terjadi di negara kita, khususnya Malang, yang memiliki basis suporter terkuat di Indonesia, dengan sebaran yang tidak hanya berada di Malang Raya, namun tersebar di seluruh pelosok nusantara bahkan di luar negeri. Tentunya besarnya basis suporter ini menjadikan potensi untuk pemilikan club berbasis suporter dan jika dilaksanakan berbarengan dengan mengemban fungsi sosial yang diutamakan untuk wilayah Malang Raya, maka pembangunan dan perbaikan diberbagai bidang akan dilaksanakan dan di support oleh kita sendiri. Semoga ini bukan hanya sebatas mimpi. (lek)
posted on : http://aremasenayan.com/2011/04/09/vox-populi-vox-dei.php?preview=true&preview_id=2643&preview_nonce=771b05128a
Menguji Profesionalisme
Miroslav Janu, Head Coach Arema Indonesia
Berbincang pagi dengan seorang nawak setelah membaca salah satu berita di Malang Post yang berisi wawancara reporter dengan pelatih Arema Miroslav Janu, dimana kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) yang telah bergulir sejak 8 Januari 2011. Namun, meskipun telah berjalan, LPI masih terus bergerilya untuk membujuk team kebanggaan kita Arema Indonesia maupun menggembosi satu demi satu pemainnya untuk di bujuk bergabung dalam kompetisi dadakan tersebut.
Berikut adalah petikan wawancara tersebut :
Malang Post (MP): Anda dikabarkan juga akan keluar dari Arema dan ikut LPI?
Miroslav Janu (MJ) : Soal saya mau gabung LPI itu tidak benar. Saya tidak ada kontrak dengan LPI. Saya sudah ada komitmen untuk bersama Arema. Saya sudah janji disini, saya mau ikut kontrak selama satu tahun. Soal nanti, lihat nanti, sekarang saya pelatih Arema, saya terus motivasi pemain untuk latihan, dan harus kerja keras. Saya mau kerja untuk Arema, tapi saya tidak bisa garansi Arema untuk juara, saya hanya garansi saya kerja keras untuk Arema, ini pekerjaan saya. Saya sudah deal dengan Arema, saya tidak lihat uang dulu, kalau sekarang ada LPI yang lebih banyak uang, ini resiko pelatih, saya dapat kontrak dan saya kerja ini untuk Arema. Mungkin ada pelatih yang lebih banyak uang, silahkan saja. Saya sudah deal dengan Arema, dan saya percaya Arema. Arema bisa saja pecat saya, ini resiko pelatih, kenapa tidak.
MP : Bagaimana dengan Njanka yang dikabarkan ikut LPI?
MJ : Saya bicara fair, saya tidak bisa lihat dalam kepala pemain. Mungkin sudah ada pemain yang mulai pikir untuk ganti tim, saya tidak mau bicara soal lain, seperti Njanka. Kalau saya tahu dulu, saya tidak akan mainkan Njanka saat lawan Persija.
MP: Bagaimana kalau ada pemain lain yang mau keluar dan ikut LPI?
MJ: Ada banyak pemain yang mau tetap disini dan mau kerja untuk Arema. Ya mungkin ada pemain yang pikir, LPI tidak usah banyak latihan. Saya lihat dua pertandingan LPI, ini mungkin kualitas Divisi I, ya kalau mau ikut LPI, bisa tidak usah latihan keras, karena mungkin sudah lihat umur, pemain bisa kontrak tiga tahun, bisa hidup enak, dan tidak usah latihan keras, dan bisa banyak uang, silahkan! Tapi kalau lihat sport, pemain seperti (Irfan) Bachdim, harus main di Liga Super, ya kalau mau karir bagus, masuk timnas, tidak bisa di LPI. Mungkin dia di LPI bisa top score, tapi di Liga Super susah. Di LPI dia bisa cetak gol terus, tapi kualitas kompetisi beda. Kompetisi LPI ini biasa, semua bisa masuk. Saya tidak marah, semua pemain urus mereka sendiri, mau LPI atau mau Liga Super. Kalau ada pemain Arema yang mau ikut LPI, harus datang dan bicara dulu. Datang pada saya, bilang mau ikut LPI, dan tidak suka Arema, silahkan. Tapi harus bicara dulu. LPI terus kejar Arema dan pemain Arema karena LPI tahu Arema ada problem uang.
MP : Anda tidak suka LPI?
MJ : Saya tidak ada problem suka LPI atau tidak, saya hanya lihat dari TV. Saya tidak pikir banyak soal LPI. Menurut saya, tim besar besar seperti PSM, harusnya ikut kompetisi Liga Super, kompetisi paling bagus. Saya tahu orang Makassar, hampir semua marah, karena tidak mau PSM main lawan tim kampung. Mereka mau lihat PSM main tim bagus, seperti Persija. Saya tidak mau ikut campur LPI, buat pertandingan LPI, silahkan. Saya tidak tahu nanti, tahun depan ada kerja disini atau tidak, tapi saya sekarang pelatih Arema. Lihat nanti, saya tidak marah soal LPI, silahkan saja.
MP : Sebenarnya menurut Anda, LPI itu bagaimana LPI?
MJ: Sebenarnya dari hitung-hitungan sederhana saja, sekarang ini kompetisi Liga Super sudah ada problem untuk satu tim dapat sekitar 25 pemain berkualitas. Divisi Utama juga problem untuk dapat pemain berkualitas, kalau mau lolos atau main di papan atas. Bisa dihitung. Liga Super ada 15 tim dikali 25 pemain yang bagus, lalu tim Divisi Utama yang ada tiga wilayah, juga problem untuk cari pemain berkualitas. Bisa lihat, banyak tim yang kualitas pemainnya tidak bagus. Ini sudah problem. Sekarang datang 19 tim LPI, yang jumlah pemainnya 20 dampai 25 pemain. Coba dihitung ada berapa pemain berkualitas disitu. Lalu dimana ada kualitas kompetisi? Divisi utama saja sudah ada problem kualitas pemain, sekarang mau buat kompetisi baru. Mungkin hanya ada Persema, Persibo dan PSM, tim yang berkualitas. Nanti juara bisa PSM atau Persema. Ini hitungan sederhana, darimana dapat pemain berkualitas? Apa dari tim Divisi I atau dari kampung! Tapi LPI sudah bicara sepakbola yang berkualitas, saya tidak mengerti. Kalau saya pelatih dan saya ada target main di papan atas, dengan atmosfir kompetisi yang bagus, dan idealnya main Liga Champion, maka saya pilih Liga Super. Pemain harusnya juga sama, Liga Champions ini top class, tidak ada yang lebih dari Liga Champions. Kalau pemain seperti Njanka mau main liga kampung, silahkan. Ini spekulasi uang, bukan sportifitas. Dia tidak mau lihat sport, tidak mau main lawan tim bagus dari Jepang, dan tim Liga Champions lainnya. Mau lihat uang saja. Tapi saya tidak marah, silahkan saja. Pemain yang pilih sendiri. Mungkin karena sudah ada umur, mungkin dapat kontrak bagus, dua atau tiga tahun, saya tidak marah. Silahkan.
Dari petikan wawancara tersebut dapat kita simak bagaimana Miro adalah seorang pelatih yang profesional, dimana dia akan tetap berkomitmen dengan kontrak yang telah ditandanganinya, dan apabila dinilai wanprestasipun, dia akan siap di pecat itu adalah resiko dari seorang profesional. Lebih lanjut, melihat komposisi team dan pemain, Miro lebih melihat LPI adalah sebagai kompetisi kampung yang memiliki bobot kualitas di bawah ISL. Suatu sistem kompetisi yang kurang tepat untuk para pemain yang ingin berkembang dan bermain melawan team-team yang bagus.
Tentang LPI yang terus bergerilya untuk mendapatkan Arema Indonesia maupun para pemainnya dapat kita lihat lebih dikarenakan Arema Indonesia sendiri adalah team yang bagus. Dari segi komposisi pemainnya, mayoritas pemain Arema Indonesia adalah materi team juara ISL 2009-2010. Dilihat dari segi struktur organisasinya dan sumber pendanaan, Arema Indonesia adalah satu dari sedikit sekali team di Indonesia yang sudah benar-benar profesional. Dilihat dari segi basis pendukungnya, dapat kita maklumi jika LPI amat sangat berambisi mendapatkan Arema Indonesia, karena dilihat dari basis pendukungnya Arema Indonesia memiliki basis pendukung atau suporter yang luar biasa, baik dalam segi jumlah maupun loyalitasnya.
Dan bagi LPI yang mengklaim bahwa kompetisi yang dibangun adalah kompetisi yang berbasis Industri, dimana Industri tidak akan bisa berjalan tanpa adanya pasar yang besar, dan dalam dunia Industri Sepakbola, pasar berarti suporter, Industri Sepakbola tidak akan berjalan tanpa adanya dukungan basis suporter yang besar. Itulah yang terjadi pada mayoritas team peserta LPI yang merupakan team yang baru berdiri yang tidak/belum memiliki basis suporter yang besar.
Aremania, sebagai basis suporter Arema Indonesia tidak menjadi besar begitu saja, akan tetapi setelah melalui berbagai tahapan dan proses. Aremania menjadi komunitas yang besar tidak karena Arema Indonesia adalah team kaya yang dimanja dengan gelontoran dana yang besar, tidak pula karena team berplat merah yang dimanja dengan segala fasilitas dan kemudahan. Akan tetapi kedewasaan Aremania adalah karena Arema Indonesia adalah team yang hampir selalu bermasalah dalam segi keuangan yang selalu membutuhkan dukungan dan pengawalan Aremania. Setiap orang yang masuk stadion tanpa tiket berarti adalah memperbesar bencana bagi team. Oleh karena itu, membangun industri sepakbola tiak bisa dilakukan secara serta merta, akan tetapi butuh proses panjang yang harus dilakukan dari bawah, bukan dari atas. (lek)
Berbincang pagi dengan seorang nawak setelah membaca salah satu berita di Malang Post yang berisi wawancara reporter dengan pelatih Arema Miroslav Janu, dimana kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) yang telah bergulir sejak 8 Januari 2011. Namun, meskipun telah berjalan, LPI masih terus bergerilya untuk membujuk team kebanggaan kita Arema Indonesia maupun menggembosi satu demi satu pemainnya untuk di bujuk bergabung dalam kompetisi dadakan tersebut.
Berikut adalah petikan wawancara tersebut :
Malang Post (MP): Anda dikabarkan juga akan keluar dari Arema dan ikut LPI?
Miroslav Janu (MJ) : Soal saya mau gabung LPI itu tidak benar. Saya tidak ada kontrak dengan LPI. Saya sudah ada komitmen untuk bersama Arema. Saya sudah janji disini, saya mau ikut kontrak selama satu tahun. Soal nanti, lihat nanti, sekarang saya pelatih Arema, saya terus motivasi pemain untuk latihan, dan harus kerja keras. Saya mau kerja untuk Arema, tapi saya tidak bisa garansi Arema untuk juara, saya hanya garansi saya kerja keras untuk Arema, ini pekerjaan saya. Saya sudah deal dengan Arema, saya tidak lihat uang dulu, kalau sekarang ada LPI yang lebih banyak uang, ini resiko pelatih, saya dapat kontrak dan saya kerja ini untuk Arema. Mungkin ada pelatih yang lebih banyak uang, silahkan saja. Saya sudah deal dengan Arema, dan saya percaya Arema. Arema bisa saja pecat saya, ini resiko pelatih, kenapa tidak.
MP : Bagaimana dengan Njanka yang dikabarkan ikut LPI?
MJ : Saya bicara fair, saya tidak bisa lihat dalam kepala pemain. Mungkin sudah ada pemain yang mulai pikir untuk ganti tim, saya tidak mau bicara soal lain, seperti Njanka. Kalau saya tahu dulu, saya tidak akan mainkan Njanka saat lawan Persija.
MP: Bagaimana kalau ada pemain lain yang mau keluar dan ikut LPI?
MJ: Ada banyak pemain yang mau tetap disini dan mau kerja untuk Arema. Ya mungkin ada pemain yang pikir, LPI tidak usah banyak latihan. Saya lihat dua pertandingan LPI, ini mungkin kualitas Divisi I, ya kalau mau ikut LPI, bisa tidak usah latihan keras, karena mungkin sudah lihat umur, pemain bisa kontrak tiga tahun, bisa hidup enak, dan tidak usah latihan keras, dan bisa banyak uang, silahkan! Tapi kalau lihat sport, pemain seperti (Irfan) Bachdim, harus main di Liga Super, ya kalau mau karir bagus, masuk timnas, tidak bisa di LPI. Mungkin dia di LPI bisa top score, tapi di Liga Super susah. Di LPI dia bisa cetak gol terus, tapi kualitas kompetisi beda. Kompetisi LPI ini biasa, semua bisa masuk. Saya tidak marah, semua pemain urus mereka sendiri, mau LPI atau mau Liga Super. Kalau ada pemain Arema yang mau ikut LPI, harus datang dan bicara dulu. Datang pada saya, bilang mau ikut LPI, dan tidak suka Arema, silahkan. Tapi harus bicara dulu. LPI terus kejar Arema dan pemain Arema karena LPI tahu Arema ada problem uang.
MP : Anda tidak suka LPI?
MJ : Saya tidak ada problem suka LPI atau tidak, saya hanya lihat dari TV. Saya tidak pikir banyak soal LPI. Menurut saya, tim besar besar seperti PSM, harusnya ikut kompetisi Liga Super, kompetisi paling bagus. Saya tahu orang Makassar, hampir semua marah, karena tidak mau PSM main lawan tim kampung. Mereka mau lihat PSM main tim bagus, seperti Persija. Saya tidak mau ikut campur LPI, buat pertandingan LPI, silahkan. Saya tidak tahu nanti, tahun depan ada kerja disini atau tidak, tapi saya sekarang pelatih Arema. Lihat nanti, saya tidak marah soal LPI, silahkan saja.
MP : Sebenarnya menurut Anda, LPI itu bagaimana LPI?
MJ: Sebenarnya dari hitung-hitungan sederhana saja, sekarang ini kompetisi Liga Super sudah ada problem untuk satu tim dapat sekitar 25 pemain berkualitas. Divisi Utama juga problem untuk dapat pemain berkualitas, kalau mau lolos atau main di papan atas. Bisa dihitung. Liga Super ada 15 tim dikali 25 pemain yang bagus, lalu tim Divisi Utama yang ada tiga wilayah, juga problem untuk cari pemain berkualitas. Bisa lihat, banyak tim yang kualitas pemainnya tidak bagus. Ini sudah problem. Sekarang datang 19 tim LPI, yang jumlah pemainnya 20 dampai 25 pemain. Coba dihitung ada berapa pemain berkualitas disitu. Lalu dimana ada kualitas kompetisi? Divisi utama saja sudah ada problem kualitas pemain, sekarang mau buat kompetisi baru. Mungkin hanya ada Persema, Persibo dan PSM, tim yang berkualitas. Nanti juara bisa PSM atau Persema. Ini hitungan sederhana, darimana dapat pemain berkualitas? Apa dari tim Divisi I atau dari kampung! Tapi LPI sudah bicara sepakbola yang berkualitas, saya tidak mengerti. Kalau saya pelatih dan saya ada target main di papan atas, dengan atmosfir kompetisi yang bagus, dan idealnya main Liga Champion, maka saya pilih Liga Super. Pemain harusnya juga sama, Liga Champions ini top class, tidak ada yang lebih dari Liga Champions. Kalau pemain seperti Njanka mau main liga kampung, silahkan. Ini spekulasi uang, bukan sportifitas. Dia tidak mau lihat sport, tidak mau main lawan tim bagus dari Jepang, dan tim Liga Champions lainnya. Mau lihat uang saja. Tapi saya tidak marah, silahkan saja. Pemain yang pilih sendiri. Mungkin karena sudah ada umur, mungkin dapat kontrak bagus, dua atau tiga tahun, saya tidak marah. Silahkan.
Dari petikan wawancara tersebut dapat kita simak bagaimana Miro adalah seorang pelatih yang profesional, dimana dia akan tetap berkomitmen dengan kontrak yang telah ditandanganinya, dan apabila dinilai wanprestasipun, dia akan siap di pecat itu adalah resiko dari seorang profesional. Lebih lanjut, melihat komposisi team dan pemain, Miro lebih melihat LPI adalah sebagai kompetisi kampung yang memiliki bobot kualitas di bawah ISL. Suatu sistem kompetisi yang kurang tepat untuk para pemain yang ingin berkembang dan bermain melawan team-team yang bagus.
Tentang LPI yang terus bergerilya untuk mendapatkan Arema Indonesia maupun para pemainnya dapat kita lihat lebih dikarenakan Arema Indonesia sendiri adalah team yang bagus. Dari segi komposisi pemainnya, mayoritas pemain Arema Indonesia adalah materi team juara ISL 2009-2010. Dilihat dari segi struktur organisasinya dan sumber pendanaan, Arema Indonesia adalah satu dari sedikit sekali team di Indonesia yang sudah benar-benar profesional. Dilihat dari segi basis pendukungnya, dapat kita maklumi jika LPI amat sangat berambisi mendapatkan Arema Indonesia, karena dilihat dari basis pendukungnya Arema Indonesia memiliki basis pendukung atau suporter yang luar biasa, baik dalam segi jumlah maupun loyalitasnya.
Dan bagi LPI yang mengklaim bahwa kompetisi yang dibangun adalah kompetisi yang berbasis Industri, dimana Industri tidak akan bisa berjalan tanpa adanya pasar yang besar, dan dalam dunia Industri Sepakbola, pasar berarti suporter, Industri Sepakbola tidak akan berjalan tanpa adanya dukungan basis suporter yang besar. Itulah yang terjadi pada mayoritas team peserta LPI yang merupakan team yang baru berdiri yang tidak/belum memiliki basis suporter yang besar.
Aremania, sebagai basis suporter Arema Indonesia tidak menjadi besar begitu saja, akan tetapi setelah melalui berbagai tahapan dan proses. Aremania menjadi komunitas yang besar tidak karena Arema Indonesia adalah team kaya yang dimanja dengan gelontoran dana yang besar, tidak pula karena team berplat merah yang dimanja dengan segala fasilitas dan kemudahan. Akan tetapi kedewasaan Aremania adalah karena Arema Indonesia adalah team yang hampir selalu bermasalah dalam segi keuangan yang selalu membutuhkan dukungan dan pengawalan Aremania. Setiap orang yang masuk stadion tanpa tiket berarti adalah memperbesar bencana bagi team. Oleh karena itu, membangun industri sepakbola tiak bisa dilakukan secara serta merta, akan tetapi butuh proses panjang yang harus dilakukan dari bawah, bukan dari atas. (lek)
Langganan:
Postingan (Atom)