Mengenai Saya

Foto saya
Jakarta, DKI, Indonesia
Abdullah Hariri (Hamba Allah yang lembut) demikian bapakku berharap seperti apa aku. Kakekku yang bijakpun tak lupa menyertakan harapannya terhadapku dengan menghadiahkan sebuah nama Moenir (yang bersinar terang). Lahir dan besar di tanah pemberani, dibesarkan oleh seorang penjual minyak tanah yang bijak,menjadi piatu sejak usia 2 tahun, namun tak pernah lepas dari kasih sayang orang tua...

12 Juli 2011

Nasionalisme, Kapitalisasi dan Politisasi Sepak Bola (Kajian Kritis Euforia Timnas dan Kemunculan LPI)

Antusiasme Calon Penonton Timnas di Piala AFF 2010 (pic by eftianto.wordpress.com)
Beberapa saat terakhir perhatian kita semua Bangsa Indonesia seolah-olah terpusatkan pada kiprah dan polah sebelas lelaki perkasa diatas lapangan hijau. Di bawah asuhan pelatih kawakan asal Austria, sebelas lelaki tersebut telah menyihir puluhan ribu pasang mata di stadion dan jutaan pasang mata lainnya melalui layar kaca. Hadirnya beberapa bintang naturalisasi dan rancaknya permainan team menjadi campuran resep yang mampu memikat siapapun yang menikmatinya.


Timnas Indonesia menjelang laga pada penyisihan AFF 2010 (Pict by PAS)
Kegagahan mereka diatas lapangan menarik antusiasme dan minat yang luar biasa dari anak bangsa ini. Berbondong-bondong merekapun berebut tiket pertandingan yang semula, bahkan hingga pertandingan penyisihan terakhir piala AFF 2010 88.000 kapasitas Stadion Utama Gelora Bung Karno hanya mampu terisi setengah lebih sedikit. Sedikit lebih banyak dari pertandingan Timnas sebelum euforia terjadi. Entah apa yang masyarakat tunggu, sehingga baru pada saat semifinal Stadion terbesar di Nusantara dan pernah menjadi yang terbesar di Asia Tenggara ini baru penuh sesak dengan atribut dan yel-yel mendukung Laskar Garuda.

Sejenak, setiap kali menjelang pertandingan dan saat penjualan tiket berlangsung, Sekitar SU GBK pun seolah-olah menjadi pusat keramaian baru di Jakarta. Lalu lalang crew Media, harapan menyaksikan pertandingan, dan kecemasan jika tidak mendapatkan tiket pertandingan menjadi pemandangan yang lumrah kita saksikan. Hal inipun dimanfaatkan dengan baik dan ahli oleh beberapa orang yang memiliki kepentingan pribadi untuk memperkaya diri sendiri. Disamping itu, ulasan di berbagai media tentang Team Merah Putih dan berbagai hal disekitarnya seolah membangunkan kembali rasa Nasionalisme kita yang seolah-olah telah tidur panjang.

Hadirnya Laskar Perkasa yang seolah-olah baru keluar dari kawah Chandradimuka seolah-olah menjadi harapan baru rakyat negeri ini yang tengah berada di tengah kondisi yang carut marut. Kondisi carut marut yang belum dapat diatasi oleh pemerintah mengakibatkan rakyat negeri ini mendambakan sosok pahlawan. Dan kemunculan Laskar Garuda yang gagah perkasa seolah-olah menjadi jawaban akan apa yang didambakan rakyat Zamrud Khatulistiwa ini.

Membuncahnya antusiasme masyarakat yang terjadi menjadi ketertarikan tersendiri bagi mereka yang memiliki hasrat, ambisi dan kepentingan. Dengan didukung oleh kekuasaan, akses, dan kekayaan yang dimiliki mencoba berbagai daya dan upaya untuk memanfaatkan situasi yang terjadi. Sepak Bola seolah-olah menjadi alat kampanye baru sekaligus alat untuk mencapai kepentingan tertentu yang efektif. Terlebih lagi dengan dukungan media nasional yang akan mendongkrak popularitas menjadi lebih efektif. Dengan sedikit tambahan bumbu, popularitas tersebut akan menjadi simpati dan pada saatnya nanti, akan dapat menjadi sebuah pilihan politik.

Hal tersebut diatas, mau tidak mau membagi energi dan konsetrasi para punggawa Laskar Garuda yang seharusnya memusatkan konsentrasi dan do’anya untuk menghadapi pertandingan selanjutnya menjadi terpecah-pecah dengan keterpaksaan untuk mengikuti dan menghadiri berbagai program dan acara yang disusun oleh rezim penguasa Perserikatan Sepakbola.

Sejatinya, Team Nasional adalah produk dari sebuah system yang kompleks dan panjang. Sebagaimana Sepak Bola sendiri, merupakan sebuah system yang melibatkan banyak hal dan banyak pihak. Di mulai dari pembinaan yang baik dan tersistem terhadap bibit-bibit berbakat anak negeri, kemudian diterjunkan dalam kompetisi berjenjang yang berkualitas, akan menghasilkan sebuah team berkualitas yang diisi oleh bakat-bakat yang terdidik dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.

Di negeri ini, Sepak Bola sendiri seolah-olah sudah melampaui lebih dari sekedar batasan olah raga. Namun, sudah menjadi sebuah sub kultur tersendiri. Jika kita menengok kedalam, dalam kompetisi yang berlangsung, Team peserta kompetisi yang didalamnya memiliki sebuah system yang sudah berjalan bertahun-tahun termasuk diantaranya adalah pembinaan pemain usia dini, dan kompetisi internal, masing-masing team tersebut kemudian membentuk sebuah system yang lumrah kita kenal dengan “Liga”. Masing-masing peserta kompetisi tersebut yang dipisahkan oleh wilayah geografis juga memiliki dukungan dari masyarakat lokal dengan berbagai ciri khas dan keunikannya. Dukungan yang besar dan luar biasa, kerap kita menyebut dengan loyalitas dan fanatisme. Pada beberapa team peserta Liga, dukungan yang besar ini menjadi modal team untuk berpartisipasi dalam kompetisi. Sebut saja Arema Indonesia yang mengandalkan sebagian besar dana operasionalnya dalam mengikuti kompetisi dari pemasukan tiket suporter.

Pendek kata, sebuah kompetisi yang terbangun merupakan sebuah proses panjang bertahun-tahun dan dengan keterlibatan banyak pihak, serta bersifat bottom up. Agar kompetisi berjalan semakin baik maka perlu untuk ditangani secara lebih profesional, sehingga akan terjadi multiplayer effect yang baik. Misalkan, terbukanya ruang-ruang bisnis yang melibatkan dan menguntungkan banyak pihak termasuk team itu sendiri.

Ketika muncul sebuah wacana hadirnya sebuah kompetisi baru yang menggelontorkan dana hingga milyaran rupiah kepada masing-masing team peserta kompetisi, menimbulkan minat tersendiri bagi beberapa orang individu di beberapa daerah. Di tengah kondisi perekonomian negeri yang belum tertata dengan baik, kucuran dana milyaran rupiah tentunya akan menyebabkan air liur para pegiat proyek di daerah menetes deras. Dengan serta merta, Itikad baik untuk menciptakan liga yang sehat dengan mekanisme bisnis terkandung didalamnya disambut oleh para pegiat proyek didaerah dengan berlomba-lomba membuat team baru yang belum memiliki basis massa pendukung dan sistem pembinaan yang sistemik.

Dalam sekejap, puluhan klub baru bermunculan di berbagai daerah. Dan kucuran dana milyaran rupiahpun segera tersebar pula ke berbagai daerah. Mereka seolah-olah lupa bahwa system Kompetisi yang diciptakan mengkolaborasikan olah raga dan mekanisme bisnis yang berkelanjutan. Sehingga di dalamnya dibutuhkan pembinaan yang tersystem, antusiasme dan dukungan masyarakat yang memenuhi stadion sebagai pasar dari bisnis tersebut. Karena, sebuah Bisnis atau Usaha tanpa pasar hanya akan menjadi investasi merugi jangka pendek yang sia-sia dan dimanfaatkan dengan rakus oleh pegiat proyek untuk memperkaya diri sendiri. Dengan demikian Liga yang seharusnya menjadi Liga Primer hanya akan menjadi tak lebih dari Liga Proyek.

Kita semua tidak menutup mata, bahwa kompetisi yang sedang berjalan dibawah pengelolaan rezim yang menutup mata dan telinga terhadap kondisi dan tuntutan sekitar adalah kompetisi yang amat sangat tidak sehat. Namun, kompetisi ini telah berjalan bertahun-tahun dan telah berakulturasi dengan masyarakat, bahkan membentuk sub kultur tersendiri. Oleh karena itu, solusi untuk memperbaikinya bukanlah dengan membentuk system kompetisi baru yang diisi oleh klub-klub baru pula. Akan tetapi dengan mengurai secara perlahan dan satu persatu untuk mencari benang yang kusut. Ketika bagian yang kusut/rusak sudah ditemukan, tinggal kita lakukan upaya perbaikan atau jika tidak memungkinkan dilakukan pula pergantian spare part di beberapa bagian. (lek)

posted on : http://aremasenayan.com/2010/12/25/nasionalisme-kapitalisasi-dan-politisasi-sebak-bola-kajian-kritis-euforia-timnas-dan-kemunculan-lpi.php?preview=true&preview_id=1961&preview_nonce=4bf79a5cdf

Orkestra Raksasa itu bernama Aremania

Tidaklah berlebihan jika suporter dikatakan sebagai pemain ke-12. Karena pada dasarnya, kekuatan yang dimiliki massa dalam setiap sejarah peradaban tidaklah dapat di pungkiri lagi. Kemudian, jika kita melihat keberagaman dan nyanyian serta sorak sorai yang dikumandangkan, jika anda pernah sekali saja berada dalam stadion Kanjuruhan ketika penuh sesak dengan Aremania yang sedang memberikan pada team kebanggaannya Singo Edan di lapangan, maka saya yakin akan timbul ledakan emosional pada diri anda. Perasaan haru biru, kebanggaan, terlarut dalam emosional yang dalam, ibarat anda adalah seorang penggemar orkestra yang sedang menyaksikan orkestra terbaik dengan lagu-lagu klasik terbaik dan lakon terbaik pula.

Belum lagi teriakan yel aba-aba, tabuhan genderang dan teriakan komando sebagaimana layaknya serdadu dalam peperangan. Mengutip apa yang ditulis oleh YB. Mangun Wijaya (alm) dalam "Tentara dan Kaum Bersenjata" yang pada bagian awal bukunya banyak mengupas tentang apa yang dilakukan Hitler terhadap Serdadu Nazi. Melihat Hitler sendiri, disamping kemampuan strateginya, kemampuan lain yang paling utama yang dimiliki oleh seorang Adolf Hitler adalah kemampuan berorasi. Sebagai seorang orator yang ulung, dia memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan mengendalikan psikologi massa. Di negeri ini, kita memiliki seorang Soekarno. Dimana, siapapun yang duduk mendengarkan orasi beliau akan terpuakau dan jatuh cinta pada pendengaran pertama. Kembali kepada Adolf Hitler, dia sangat menyadari keahliannya sebagai seorang orator ulung. Dan dia memiliki strategi dalam mempengaruhi massa. Secara psikologis, massa akan cenderung takjub melihat sesuatu yang anggun dan gagah, hal inilah yang dia bangun pada bala tentara Nazi. Dia penuhi segala kebutuhan atribut, lencana dan senjata, hal ini nampak sekali jika kita menyaksikan film Stallingard, perbedaan yang kontras sangat terlihat bagaimana cara berpakaian serdadu Jerman dan Rusia. Setelah dia lengkapi segala kebutuhan tersebut, dia kerahkan orang untuk melatih para serdadu keahlian dan ketrampilan menggunakan senjata (senam senjata). Dan dia kumpulkan massa dalam satu stadion untuk menyaksikan atraksi para serdadu tersebut berbaris dengan sepatu lapangan hingga menimbulkan bunyi yang menggetarkan, ketrampilan menggunakan senjata dan sekali-sekali di gerakkan hingga menimbulkan bunyi secara bersamaan. Dapat anda bayangkan jika anda berada dalam stadion tersebut, histeria, teriakan, dan tepukan tangan massa akan berbalik memberikan semangat serdadu yang beratraksi, sehingga dua kekuatan tersebut akan saling mendukung. Namun, tanpa disadari, damapak yang timbul adalah fanatisme massa yang menyaksikan kepada kekuatan serdadu dan kepercayaan serta kecintaan terhadap Fuhrer, sang pemimpin. Sebaliknya, apresiasi yang tinggi dari massa akan menimbulkan dampak yang sama terhadap serdadu, kepercayaan diri, dan kecintaan terhadap massanya menjadi semakin tinggi. Ya, sihir inilah yang dimainkan oleh seorang Adolf Hitler.

Kembali ke Stadion Kanjuruhan, dan Aremania yang memberikan dukungan kepada Singo Edan. Tentu saja, kondisi di Kanjuruhan tidak dapat disamakan dengan sihir Hitler. Akan tetapi, saya mencoba menarik benang merah dari psiklogi massa yang terbangun dan loyalitas pemain yang timbul. Saya lebih cenderung melihat Aremania di Kanjuruhan sebagai sebuah orkestra raksasa yang memberikan sihir yang lain. Jika pada orkestra biasa, sihir yang ditampilkan akan berdampak pada perasaan haru terhadap audiencenya. Akan tetapi, jika kita melihat yang terjadi di Kanjuruhan, yang terjadi justru sebaliknya, alunan nada yang ditampilkan orkestra raksasa bernama Aremania itu justru menimbulkan semangat tanding yang tinggi dan energi tambahan bagi para pemain. Sebaliknya, bagi team lawan, yang mereka rasakan justru sebaliknya, jika para pemain lawan tidakmemiliki mental bertanding dan mental juara yang tinggi, yang terjadi adalah rasa kecil hati dan merasa kalah sebelum bertanding. Hal ini sangat berbeda dengan jika orkestra raksasa itu menyanyikan lagu yang menyudutkan, menghina dan mencaci team lawan, yang timbul justru semangat dan mental bertanding yang tinggi akibat membela harga dirinya. Itu pula sebabnya, mengapa suporter yang banyak menyanyikan lagu sumbang justru berbuah boomerang bagi teamnya sendiri.

Oleh karena itu, tulisan ini sekaligus memberikan himbuan kepada nawak-nawak untuk terus menyanyikan lagu yang mendukung dan membuang lagu-lagu rasisme. Salam 1 Jiwa (lek.)

posted on : http://lapanganrumput.wordpress.com/2010/06/15/orkestra-raksasa-itu-bernama-aremania/

15 Januari 2011

Semua Orang Penting

Sebuah kisah lama, saya lupa siapa yang menceritakannya, tapi kisah ini begitu inspiratif, dikisahkan sebagai berikut :

Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Malang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Di sampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.

”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta?”, tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke-2”, jawab ibu itu.

”Wow, hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahunya, pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.
”Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang ke-2 ya bu? Bagaimana dengan kakak adik-adiknya?”

”Oh ya tentu”, si Ibu bercerita:
”Anak saya yang ke-3 seorang dokter di Malang, yang ke-4 kerja di perkebunan di Lampung, yang ke-5 menjadi arsitek di Jakarta, yang ke-6 menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke-7 menjadi Dosen di Semarang.”

Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak ke-2 sampai ke-7.

”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu?”

Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja, nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”

Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu……kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedangkan dia cuma menjadi petani.“

Dengan tersenyum ibu itu menjawab, ”Ooo, tidak, tidak begitu nak…justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani.”

14 Januari 2011

Negeri yang Bikin Sakit Hati (Oleh : Reza Ervani)

Negeri yang Bikin Sakit Hati
Karena pemimpinnya sudah tak lagi punya nurani
Diganti, dijual dengan posisi sebuah kursi
Dan rakyat lugu yang selalu diimingi janji-janji

Negeri yang Bikin Sakit Hati
Punya presiden yang jagonya cuma basa-basi
Yang dipikirkan hanya pencitraan diri
Dan sensasi apa buat tivi besok pagi

Negeri yang Bikin Sakit Hati
Menterinya bilang setahun PLN tak pernah mati
Padahal lilin di warung pun tak tersisa lagi
Tambah stressnya data hilang mahasiswa yang sedang skripsi

Negeri yang Bikin Sakit Hati
Polisi, Hakim dan Jaksa bisa dibeli
Maling ayam dan pencopet digebuki
Sementara mafia di penjara dapat ruang Vi Ai Pi

Negeri yang Bikin Sakit Hati
Internet mahal dan operator monopoli
Sementara sang menteri sibuk ngurusin Blekberi
sambil update twitteran tiap hari

Negeri yang Bikin Sakit Hati
Pidato pejabatnya tentang peningkatan ekonomi
Tapi harga cabe melambung tak terbeli
Sementara petani tetap miskin gigit jari

Negeri yang Bikin Sakit Hati
Dinas Pendidikannya bikin RSBI
Biaya kuliah semakin tinggi
Sekolah tinggi hanya untuk jadi pegawai negeri

Negeri yang Bikin Sakit Hati
TKI di luar negeri disiksa sampai mati
Budaya bangsa dibajak tetangga sendiri
Presidennya malah sibuk bikin lagu nyaingin selebriti

Negeri yang Bikin Sakit Hati
Bahkan politikpun masuk ke PSSI
Bikin timnas mandul prestasi
Lalu sibuk bikin naturalisasi

Negeri yang Bikin Sakit Hati
Orang pajak sibuk bikin promosi
Orang pajak pula yang korupsi
Kataya di penjara tapi bisa nonton tenis di Bali

Negeri yang Bikin Sakit Hati
Jangan tanya kenapa sama penulis puisi ini
Tanya saja sama Aburizal Bakri atau Ibu Ani
Yang pengen jadi presiden baru nanti

12 Desember 2010

Adzan yang terhenti...

Di negeri kita yang mayoritas muslim, apalagi di tempat asal saya yang banyak terdapat langgar (surau) dan masjid dimana-mana, setiap masuk waktu shalat lima waktu suara adzan adalah suara yang lazim kita dengarkan. Mulai dari adzan subuh, dzuhur, ashar, maghrib, hingga isya saling bersahut-sahutan dari satu surau, masjid ke surau dan masjid yang lain. Suara sang muadzin pun beragam, mulai dari suara yang merdu seperti layaknya suara Qori' internasional, hingga suarau parau seorang kakek-kakek, bahkan tak jarang pula kita dengar suara lugu bocah santri TPQ surau/masjid setempat.

Suatu ketika, beberapa tahun yang lalu (saya lupa persisnya), saat itu saya terbangun oleh suara adzan subuh yang berasal dari masjid di kampung belakang rumah almarhum orang tua saya (Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau). Di pagi buta, saat sebagian besar kendaraan masih terlelap di tempat parkirnya masing-masing, saat kebanyakan televisi dan radio belum di hidupkan, saat sebagian orang masih berlindung di balik selimutnya, suara adzan akan terdengar lebih nyaring di banding saat waktu sholat yang lain. Satu hal yang menjadi tanda tanya saya pada saat itu adalah ketika suara adzan tersebut tiba-tiba berhenti di tengah kumandangnya, saya sendiri yang masih setengah sadar hanya menyimpan pertanyaan dalam hati sambil ngeloyor ke kamar mandi untuk menunaikan panggilan tersebut.

Pertanyaan dalam hati tersebut baru terjawab pagi harinya, saat para tetangga dan warga sekitar yang sebagian memiliki rutinitas membeli minyak tanah di rumah saya membicarakan tentang muadzin masjid belakang yang meninggal saat beradzan. Sontak saya teringat apa yang pernah disampaikan orang tua saya, bahwa seseorang bisa meninggal sesuai dengan apa yang diinginkannya. Artinya, jika seseorang ingin meninggal di dalam masjid, maka jadilah ahli masjid, seperti jamak yang kita lihat pula, bahwa seorang ahlul khamr seringkali meninggal dalam keadaan mabuk. Demikian pula, seseorang yang ingin meninggal dengan tidak menyusahkan orang lain, maka biasakanlah untuk memudahkan orang lain. Jika ingin meninggal dalam keadaan berdzikir, mengingat Allah, maka Ingatlah Allah dimana saja kita berada. Subhanallah, pelajaran yang berharga bagi kita semua. Semoga kitapun di beri akhir yang seindah mungkin...